03 October 2020, 08:34 WIB

Covid-19 Sebabkan Terjadinya Tiga Goncangan


Agus Utantoro | Humaniora

MANTAN Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan mengemukakan pandemi covid-19 ini telah menyebabkan terjadinya tiga goncangan yang dialami masyarakat.

"Pertama, shock gaya hidup. Yang tadinya kita komunal, sekarang  kita nonkomunal. Tadinya kita fisik, sekarang kita digital. Kedua, shock
informasi. Kita menerima informasi dari banyak pihak, baik di dalam dan luar negeri, dan tidak semua informasi tersebut sinkron. Ketiga, shock kebijakan (policy), karena kebijakan yang dikeluarkan berbagai tingkat pemerintah tidak selalu nyambung," papar Gita.

Advisory Board Chairman, School of Government and Public Policy (SGPP) Indonesia itu menyampaikan hal tersebut dalam Kuliah Pembuka Tahun Akademik 2020/2021 Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (HI UII), Jumat (2/10) yang dilaksanakan secara daring.

Baca juga: Immunodulator Covid-19 LIPI Tunggu Persetujuan Badan POM

Kuliah pembuka yang bertema 'Politik Global Covid-19: Peluang dan Tantangan ke Depan' itu dihadiri lebih dari 700 sivitas akademika HI UII.

Lebih lanjut ia mengatakan, bagi setiap negara, kesehatan seharusnya menjadi prioritas dalam penanganan covid-19. Kebijakan yang mengutamakan ekonomi dan meremehkan kesehatan secara jangka pendek memang cukup menggiurkan. Namun, hal ini berisiko dan tidak dapat memastikan keberlanjutan dalam jangka panjang.

"Jika kesehatan tidak menjadi prioritas, kepastian untuk beraktivitas ekonomi berkelanjutan akan menjadi tantangan terbesar yang dihadapi negara," ujarnya.

Ditambahkannya, negara harus melakukan pendekatan ilmiah dan pemberdayaan sains untuk merumuskan kebijakan dalam menghadapi pandemi. Peningkatan angka testing covid-19 menjadi wujud pendekatan ini. Kebijakan negara dalam menangani pandemi seharusnya tidak didasarkan pada intuisi.

Menurut dia, pandemi covid-19 telah menekan aktivitas perdagangan di Asia Tenggara. Meskipun beberapa negara melaporkan surplus erdagangan, harus dipahami bahwa surplus tersebut terjadi akibat penurunan impor yang lebih cepat dibandingkan penurunan ekspor.

Pandemi juga menyebabkan peningkatan proteksionisme serta menciptakan disrupsi pada rantai pasokan, dan pada akhirnya menurunkan volume perdagangan global.

Sementara itu, Rektor UII Fathul Wahid, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa dalam menghadapi pandemi, selain kebijakan yang tepat, konsistensi pengawalan kebijakan di lapangan secara istikamah sangatlah penting.

"Saat ini, baik menurut mereka yang menerima maupun yang menyangkal  adanya pandemi (paling tidak di awal kemunculannya), semuanya sudah
merasakan dampaknya yang dahsyat, termasuk pada sektor ekonomi. Karena pandemi sudah menjadi masalah lintas teritorial (negara, provinsi, kabupaten), maka penanganannya tidak mungkin efektif tanpa kerja sama  antaraktor lintas teritorial," ungkap Fathul.

Selain Gita Wirjawan, Kuliah Pembuka Tahun Akademik 2020/2021 Program Studi HI UII juga menghadirkan Wafa Taftazani sebagai narasumber.

Pria yang merupakan Co-Founder Komisaris Utama Modal Rakyat dan Co-Chairman Indonesian Youth Diplomacy itu memberi paparan yang berfokus pada peluang dan tantangan ekonomi digital di era Covid-19.

Wafa menyampaikan ekonomi digital hingga saat ini belum menyentuh hingga ke akar rumput atau grassroots, sehingga perlu ada upaya yang lebih agar perekonomian dapat merata.

Wafa juga menekankan bahwa ada tiga kunci yang perlu dimiliki dalam menghadapi dunia saat ini. Pertama, menemukan apa masalah yang ada sekaligus pilihan-pilihan yang mungkin untuk menyelesaikannya, kemudian memiliki mental yang ingin sukses sepuluh kali lipat lebih daripada orang lain, serta bekerja untuk mendapatkan pengalaman dan keahlian, bukan untuk uang.

Kepada mahasiswa HI UII, Wafa yang merupakan lulusan HI Universitas Katolik Parahyangan dan Master of Business Administration dari University of Cambridge ini berpesan mengenai keilmuan HI secara khusus.

"Ketika kalian lulus dari UII, kalian akan menghadapi dunia pascapandemi yang pasti berubah dan dengan keadaan ekonomi yang luluh lantak. Maka semua tergantung pada apa nilai ekonomi (economic value) yang kalian bawa sehingga bermanfaat bagi orang lain, dan terapkan pengalaman dan pengetahuan di dunia HI untuk hal-hal yang nanti menjadi pilihan karier atau pilihan usaha kalian," ungkap Wafa. (OL-1)

BERITA TERKAIT