03 October 2020, 08:25 WIB

Negara-Negara Berlomba Mendapatkan Pengaruh


A Wahyu Kristianto | Fokus

KONFLIK mematikan antara Azerbaijan dan separatis yang didukung Armenia di Nagorny Karabakh melibatkan seluruh pemain negara yang bersaing untuk mendapatkan pengaruh.

Berikut ialah ringkasan dari para pemain internasional dan peran apa yang dapat mereka mainkan dalam menyelesaikan krisis.

TURKI

Turki telah memberikan dukungan penuh kepada sekutu nya, Azerbaijan, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa angkatan bersenjatanya dapat melakukan intervensi langsung.

Armenia telah mengklaim bahwa jet tempur Turki yang terbang untuk mendukung pasukan Baku menjatuhkan salah satu pesawat tempurnya.

Mereka menuduh Turki mengirim tentara bayaran dari Suriah serta spesialis militer yang mampu menerbangkan pesawat dan drone, sedangkan Ankara dan Azerbaijan membantahnya.

Dukungan Turki untuk Azerbaijan cocok dengan ‘proyek bersejarah’ untuk menciptakan persatuan masyarakat Turki, sebuah ide yang di promosikan nasionalis Turki, Jean Radvanyi, seorang akademisi yang mengkhususkan diri dalam geopolitik pasca-Soviet, mengatakan kepada AFP.

“Ini juga cara untuk menunjukkan Turki adalah kekuatan regional yang sedang tumbuh yang mampu campur tangan di banyak medan perang,” kata Radvanyi dari Universitas Inalco Paris, memberikan contoh tentang Suriah dan Libia.

Bagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, ini merupakan kesempatan untuk menggalang para pemilih nasionalis dalam ‘mobilisasi patriotik’ melawan Armenia, yang dilihat orang kuat itu sebagai ancaman regional dan juga musuh bersejarah.

RUSIA

Sejak jatuhnya Uni Soviet, Rusia telah memelihara hubungan baik dengan Armenia dan Azerbaijan, bekas Soviet, dan menjual senjata kepada keduanya.

Konflik Karabakh yang telah lama membara dengan ledakan pertempuran mematikan yang sesekali terjadi menguntungkan bagi Rusia, kata Gela Vasadze, seorang analis politik Georgia. Dengan alasan bahwa hal itu memungkinkan Moskow untuk ‘mempertahankan pengaruhnya’ dengan bertindak sebagai penengah.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyerukan gencatan senjata, tetapi posisi Rusia terancam meningkatnya dukungan Turki untuk Azerbaijan yang dapat mengganggu keseimbangan kekuatan, kata Radvanyi.

Peneliti mengatakan Rusia telah membuat kesal Azerbaijan dengan memasok senjata ‘paling canggih’ kepada Yerevan, yang merupakan anggota aliansi militer pimpinan Moskow yang disebut Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif.

Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengkritik preferensi untuk Armenia ini.

Namun, dia melihat Moskow memegang ‘banyak pengungkit untuk negosiasi’ berkat hubungan ekonomi yang signifikan dengan Azerbaijan
dan Armenia dan diaspora mereka yang besar di Rusia.

IRAN

Berbatasan dengan Armenia dan Azerbaijan, Iran ingin bertindak sebagai mediator, tetapi memiliki sedikit peluang untuk mengambil peran tersebut.

Sementara itu, Azerbaijan merupakan negara Syiah seperti Iran, kepemimpinannya sekuler serta tidak percaya pada proselitisme agama dan ambisi regional Iran.

Pada gilirannya, Iran mengkhawatirkan hubungan Azerbaijan dengan komunitas etnik Azerbaijan yang besar yang tinggal di Iran utara,
takut akan gerakan nasionalis.

Teheran juga mencurigai kerjasama militer antara Azerbaijan dan Israel.

Karena itu, kepemimpinan Iran lebih menyukai hubungan dengan Armenia yang sebagian besar beragama Kristen, seperti mengambil bagian dalam pembangunan jalan dan infrastruktur gas di sana.

Dalam pandangan Vasadze, tawaran Iran untuk menengahi memiliki peluang kecil untuk berhasil.

BARAT

Kekuatan-kekuatan besar Barat telah menyerukan gencatan senjata segera. Amerika Serikat dan Prancis telah terlibat dalam negosiasi dalam konflik tersebut selama lebih dari 30 tahun dalam formasi diplomatik Grup Minsk yang juga mencakup Rusia. Sejauh ini, hal tersebut tidak berhasil.

Baik di AS maupun Prancis, wacana publik didominasi anggota diaspora Armenia yang berpengaruh.

Akan tetapi, negara-negara Barat memiliki hubungan ekonomi dengan Azerbaijan yang kaya energi, yang jaringan pipa gasnya berkontribusi pada pasokan mereka, dan mereka terlibat dalam proyek-proyek pembangunan.

“Dalam beberapa tahun terakhir, Barat tidak benar-benar menekan Yerevan dan Baku”, kata Radvanyi, dengan konflik Karabakh ‘tidak menjadi agenda utama’.

Masih harus dilihat apakah gejolak tersebut akan menghidupkan kembali upaya diplomatik. (AFP/I-1)

BERITA TERKAIT