03 October 2020, 07:59 WIB

Hengkangnya Honda Buat Formula 1 Hadapi Pertanyaan Fundamental


Basuki Eka Purnama | Olahraga

STEFANO Domenicali bakal menghadapi sejumlah pertanyaan fundamental yang harus dijawab ketika ia mengepalai Formula 1 mulai tahun depan, yang menjadi tahun terakhir Honda di ajang balap jet darat itu.

Honda, Jumat (2/10), memutuskan tidak akan melanjutkan kiprah mereka sebagai pemasok mesin di Formula 1 setelah musim 2021 berakhir. Keputusan itu menyebabkan Formula 1 menyisakan tiga pabrikan saja, yaitu Mercedes, Ferrari, dan Renault, dan belum ada tanda-tanda pendatang baru.

Pabrikan telah datang dan pergi dalam 70 tahun sejarah F1. Honda menjual timnya dan mundur sebagai konstruktor pada 2008 setelah mengalami krisis finansial global.

Baca juga: Bos Formula E Sayangkan Kepergian Honda dari F1

Kali ini, alasan pabrikan Jepang itu adalah untuk fokus ke teknologi emisi nol seperti sel bahan bakar dan baterai mobil listrik.

"Formula 1 sekarang beresiko menjadi sedikit tidak relevan untuk pabrikan mobil, khususnya pabrikan mobil yang belum tertarik kepada olahraga ini. Hal itu karena dunia kendaraan berubah lebih cepat daripada yang orang perkirakan lima tahun lalu," kata mantan engine head Cosworth F1 Mark Gallagher.

"Saya rasa, langkah Honda, meski mengejutkan, sepenuhnya sesuai dengan apa yang kami lihat terjadi di seluruh dunia," tambah mantan marketing executive tim Jordan, Jaguar, dan Red Bull itu.

"Bagi Formula 1 hal itu menimbulkan sejumlah pertanyaan cukup fundamental tentang apa yang akan mereka lakukan pada tiga atau empat tahun ke depan," lanjutnya.

Sementara itu, balap mobil listrik Formula E ramai diikuti sepuluh pabrikan musim ini, termasuk empat raksasa Jerman yaitu Audi, BMW, Mercedes, dan Porsche.

Biaya yang dibutuhkan di Formula E juga jauh lebih rendah ketimbang F1, ditambah kontrak ekslusif berdurasi 25 tahun di ajang balap mobil listrik kursi tungggal satu-satunya yang diakui FIA itu.

Penggagas Formula E Alejandro Agag mengatakan, di saat balap mesin pembakaran masih memiliki masa depan, elektrifikasi merupakan tren yang
tidak bisa dihentikan.

"Hal seperti pandemi covid-19 sebenarnya telah mengakselerasi proses itu karena keseluruhan komunitas bisnis sedang membicarakan fakta bahwa dunia pasca-covid-19 harus menjadi tempat yang lebih hijau," kata Gallagher.

"Formula 1 mendapati dirinya dalam posisi yang sedikit tidak menyenangkan karena terikat dengan teknologi berbasis bahan bakar fosil di saat seluruh dunia bergerak ke arah yang berbeda," lanjutnya.

Sedangkan perubahan regulasi mesin F1 selanjutnya baru terjadi pada 2026.

Tahun lalu, F1 mencanangkan rencana keberlanjutan yang bertujuan menghasilkan jejak karbon nol hingga 2030. Namun, masih banyak yang harus digarap untuk mencapainya.

Mesin V6 turbo hybrid, yang digunakan sejak 2014, saat ini menghasilkan efisiensi panas lebih dari 50% dan memproduksi lebih banyak tenaga dengan bahan bakar yang lebih sedikit.

Bos Renault F1 Cyril Abiteboul mengatakan pertanyaan tentang relevansi adalah kuncinya, dan olahraga itu butuh pesan yang lebih jelas untuk memenangi pertarungan persepsi.

Abiteboul mengatakan bahwa F1 perlu menemukan gaya dan ruangnya tersendiri.   
 
Teknologi cukup bagus jika kalian juga berhasil menyebarkan pesan kalian dan itu yang kita gagal lakukan," kata Abiteboul.

"Saya memiliki kekhawatiran bahwa ketika kalian kalah dari pertarungan persepsi, sangat sulit untuk membalikkannya."

Oleh karena itu, Abiteboul merasa pentingnya mengakselerasi sisi keberlanjutan dan ekonomi F1.

"Stefano Domenicali memiliki topik itu yang harus ditanggapi dengan prioritas tertinggi tentunya," kata dia soal mantan bos Ferrari dan CEO Lamborghini yang akan menggantikan peran Chase Carey pada tahun depan. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT