03 October 2020, 07:08 WIB

Dua Bocah Penderita Luka Bakar Kehabisan Biaya untuk Dirawat di RS


Yohanes Manasye | Nusantara

SUARA tangis bocah terdengar hingga koridor depan ruangan Teratai, RSUD Ben Mboi Ruteng, Jumat (2/10). Beberapa perawat tampak sibuk melayani pasien di rumah sakit milik Pemkab Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu.

Dari balik pintu kamar kelas III terlihat seorang bocah berbaring lemah. Pada wajahnya terpasang masker oksigen. Selangnya tersambung pada sebuah tabung di sisi ranjang. Cairan infus pada botol yang menggantung pada sisi ranjang juga disuntikkan pada tangan kirinya.

Putri, bocah empat tahun asal Desa Kakor, Kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat, terus menangis. Punggung, wajah, dada hingga perut, tangan, dan pahanya mengalami luka parah.

Baca juga: Tokoh Masyarakat Solo Bagikan Suplemen untuk Wartawan

Tidak hanya putri, Neira, adiknya, juga mengalami luka pada wajah, punggung, dada, dan tangan. Namun, kondisinya tidak separah kakaknya yang beberapa hari belakangan ditambah lagi dengan sesak nafas.

"Kondisi kakaknya ini lebih parah. Luka Bakar di seluruh tubuh dan mulai sesak nafas. Kami usahakan untuk rawat kakaknya dulu baru rawat adiknya," ujar Lusia Diantri Heni, 23, ibu kedua bocah itu

Lusia menuturkan musibah yang dialami Putri dan Neira terjadi pada Jumat malam, dua pekan lalu.

Seperti biasanya, menjelang malam, mereka menyalakan lampu pelita. Lampu yang terbuat dari kaleng bekas dan berbahan bakar minyak tanah itu menjadi sumber penerangan bagi warga Desa Kakor dan sekitarnya karena belum dialiri listrik PLN.

Sekitar pukul tujuh malam, ayah mereka, Marselinus Gadu, 28 menambahkan minyak tanah ke dalam kaleng lampu. Aktivitas sang ayah menarik perhatian kedua anaknya yang sedang asyik bermain.

"Putri dan Neira mendekati lampu. Tiba-tiba lampu itu meledak. Minyak tanah diikuti nyala api seakan-akan tersiram ke tubuh kedua anak kami," ungkap Lusia mengisahkan awal musibah yang dialami kedua putrinya.

Percikan minyak tanah disertai nyala api menyulut tubuh mungil kedua bocah kakak beradik itu. Ayah-ibu mereka berusaha mencari pertolongan dengan melarikan kedua bocah ke Puskesmas Tentang.

Setelah mendapat penanganan darurat, petugas Puskesmas langsung merujuk pasien ke RSUD Ben Mboi Ruteng.

Di rumah sakit itu, Putri dan Neira terdaftar sebagai pasien umum karena tidak memiliki BPJS atau KIS. Satu pekan berlalu, kondisi kedua bocah belum juga membaik. Sedangkan kedua orangtua mereka sudah kehabisan biaya.

"Saat itu, kami sudah tidak punya uang sama sekali. Kami minta keluar dari rumah sakit karena tidak sanggup lagi membayar rumah sakit," tutur Lusia.

Pihak rumah sakit, lanjut dia, mengizinkan mereka membawa kedua putrinya keluar dari rumah sakit itu setelah mengetahui alasan kehabisan biaya.

Keluar dari rumah sakit, Putri digendong ayahnya dan Neira digendong ibunya. Mereka berjalan kaki karena untuk sewa ojek pun, tidak punya uang lagi.

Rencananya, saat itu, Marsel dan Lusia langsung kembali ke kampung agar anaknya menjalani perawatan alternatif di dukun kampung. Namun, mereka dilarang oleh keluarga di Nekang, tidak jauh dari rumah sakit, yang kemudian bersedia menampung mereka.

Mereka kemudian meminta pertolongan biarawati Katolik di Susteran Hamba-hamba Ekaristi untuk memberikan pengobatan sementara kepada kedua bocah itu. Hampir sepekan berada di luar rumah sakit, kondisi korban bukannya membaik.

Putri mulai sesak nafas dan lukanya bernanah. Demikian pula Neira, luka-lukanya yang bernanah mengeluarkan aroma tidak sedap.

Pada Kamis (1/10), warga yang menampung keluarga pasien itu menginformasikan kepada Bripka Andi Dharma Elim Sallata, anggota Polres Manggarai yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di wilayah itu.

Polisi yang dikenal ringan tangan ini langsung mendatangi biara. Ia mendapati Putri dan Neira dalam kondisi memprihatinkan. Bripka Dharma langsung meminta agar kedua bocah itu dikembalikan ke RSUD Ben Mboi Ruteng.

Berkali-kali kedua orangtuanya berusaha menolak dengan alasan tidak punya biaya lagi. Namun, Bripka Dharma memberanikan diri menjadi penjamin agar pihak RSUD bersedia merawat kedua bocah itu hingga sembuh.

"Saya sempat menangis melihat kondisi Putri dan Neira. Saya ingat anak saya yang masih kecil juga. Tidak tega kalau dibiarkan menderita. Saya bilang, 'Bapa,k saya siap jadi penjamin asalkan rumah sakit bisa rawat mereka dengan baik sampai sembuh'," tutur Bripka Dharma.

Pada hari itu juga, Putri dan Neira diangkut ke rumah sakit. Di IGD RSUD Ben Mboi Ruteng, dokter sempat bilang, sebelumnya kedua pasien sudah keluar dari rumah sakit tersebut karena tidak mampu membiayai perawatan.

"Mereka tanya, kalau masuk lagi ke sini, siapa yang jadi penjamin untuk bayar biaya rumah sakit? Saya bilang, saya penjaminnya. Saya bertanggung jawab. Saya yakin, ada banyak orang baik di belakang saya yang tergerak hatinya untuk membantu," tutur Dharma.  

Namun, hari itu, pihak RSUD hanya menerima Putri untuk menjalani rawat inap. Sedangkan Neira hanya diperban dan dianjurkan untuk menjalani rawat jalan saja. Padahal, kondisi Neira pun terlihat parah, meski tidak separah kakaknya.

Dengan berat hati, Bripka Dharma dan kedua orangtua pasien menuruti anjuran dokter. Putri rawat inap, Neira rawat jalan dan dititip di rumah warga yang sejak awal menampung mereka.

Pada Jumat (2/10), donasi untuk Putri dan Neira perlahan terkumpul. Antara lain dari Kapolres Manggarai AKBP Mas Anton Widyodigdo dan beberapa komunitas pemuda di Ruteng.

Bripka Dharma pun meminta pihak RSUD agar Neira juga mendapatkan perawatan inap.

Permintaan tersebut dipenuhi pihak RSUD dengan mengirim ambulans untuk menjemput Neira. Kini Neira dan Putri sama-sama mendapat pelayanan rawat inap di RS milik Pemkab Manggarai.

Sementara itu, Direktur RSUD Ben Mboi Ruteng Veronica Imaculata Djelulut mengaku baru mengetahui adanya pasien yang minta keluar dari rumah sakit karena tidak mampu membayar biaya pengobatan. Namun, ia mengatakan hal itu bisa terjadi karena pasien sendiri yang meminta untuk keluar meskipun kondisinya masih parah.

"Pasien keluar atas permintaan sendiri," kata mantan Kadis Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat itu.

Terkait pembiayaan, lanjut dia, khsusus untuk pasien asal Kabupaten Manggarai, ada dana jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) yang disiapkan untuk pasien tidak mampu.

Sedangkan untuk Putri dan Neira, ia tidak ingin berkomentar karena itu terkait kebijakan daerah asal pasien tersebut yakni Pemkab Manggarai Barat.

"Kalau pembiayaan pasien, kita di Manggarai punya dana. Dana Jamkesda. Tapi kan pasien dari luar daerah. Saya tidak bisa omong kebijakan pemerintah kabupaten lain to," katanya.

Hingga saat ini, orangtua Putri dan Neira masih membutuhkan bantuan untuk biaya perawatan, pengobatan, hingga biaya hidup selama merawat kedua buah hatinya.

Bagi pembaca yang tergerak hati, silahkan menghubungi nomor telephon Bripka Darma 082144161359 atau mengirimkan donasi melalui rekening BNI nomor 0695215743 atas nama Andi Dharma Elim Sallata.

Sedangkan untuk warga terdekat, bisa mengantar langsung sumbangannya ke Biara Susteran Hamba-Hamba Ekaristi di Jalan Nasution Nekang, Kelurahan Watu, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai. (OL-1)

BERITA TERKAIT