03 October 2020, 06:30 WIB

Memaknai Batik kala Pandemi


ATIKAH ISHMAH WINAHYU | Humaniora

SEUSAI UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya dunia pada 2009, pemerintah Indonesia menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Peringatan Hari Batik Nasional perlu dimaknai sebagai momentum kebangkitan produk asli dalam negeri untuk menyelematkan perekonomian nasional dari krisis akibat pandemi.

“Saat ini kita memang dihadapkan pada kondisi perekonomian nasional yang sulit bergerak. Perlu berbagai upaya yang efektif agar perekonomian nasional bisa keluar dari kondisi
resesi,” kata Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat dalam keterangan resmi, kemarin.

Peringatan Hari Batik Nasional, kata Rerie, sapaan akrab Lestari, tepat bila dijadikan momentum kepedulian terhadap produk-produk karya anak bangsa. “Momentum sekecil
apa pun yang ada saat ini harus bisa kita manfaatkan untuk mendorong agar perekonomian kita bisa bergerak, tumbuh kembali, dan keluar dari krisis.

Kecintaan masyarakat terhadap karya anak bangsa bisa jadi pintu masuk untuk menggerakkan perekonomian nasional,” ujar Rerie.

Selain potensi ekspor industri kreatif anak bangsa, seperti batik, tenun Nusantara, dan produk kerajinan lainnya, menurut legislator Partai NasDem itu, potensi pasar dalam
negeri sangat besar dengan jumlah penduduk 230 juta dan hampir 50% terdiri dari penduduk berusia di bawah 29 tahun.

Di tempat terpisah, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan ekspor batik justru meningkat di tengah pandemi. Agus menerangkan
jumlah ekspor batik hingga semester pertama di 2019 mencapai US$17,99 juta. Sementara itu, pada periode yang sama di 2020 ada peningkatan mencapai US$21,54 juta.

Pasar ekspor utama produk tersebut ialah ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

“Fenomena ini cukup unik karena pasar ekspornya bisa meningkat di saat masa pandemi covid-19. Usaha membuka pasar-pasar baru tingkat global diharapkan bisa membantu
kembali menggairahkan kinerja industri batik Indonesia,” jelas Agus dalam pembukaan Peringatan Hari Batik Nasional secara virtual, kemarin.

Filosofi


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan batik bukan sekadar sebuah kera jinan tangan, melainkan juga karya yang mengandung
makna filosofis kehidupan rakyat Indonesia sejak lahir hingga kembali kepada Tuhan yang dipengaruhi alam sekitar hingga pengaruh zaman.

“Batik diturunkan dari generasi ke generasi melalui pemaknaan simbol warna dan corak kehidupan. Warisan ini menuangkan kreativitas dan spiritualitas masyarakat Indonesia
yang tidak lekang oleh waktu dan sudah sepatutnya kita menjaga warisan budaya ini,” kata Nadiem dalam Pembentangan Perdana Mahakarya Kain Batik Garuda Nusantara,
kemarin.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menuturkan pengakuan UNESCO terhadap batik merupakan sebuah berkah sekaligus menjadi tantangan
bagi masyarakat untuk terus merawat, melestarikan, dan mengenalkan batik kepada dunia.

Peringatan Hari Batik Nasional kemarin ditandai dengan pembentangan kain Batik Garuda Nusantara (BGN) sepanjang 74 meter di Taman Purbakala Museum Nasional dan peluncuran sentra pasar digital batik Indonesia Kuklik Batik oleh Yayasan Tjanting Batik Nusantara (TBN). (Wan/RO/H-3)

BERITA TERKAIT