03 October 2020, 05:00 WIB

Permodalan Bank masih Kuat


Despian Nurhidayat | Ekonomi

KONDISI permodalan perbankan pada krisis moneter 1998 sangat berbeda dengan krisis pada tahun ini. Meski saat ini ekonomi Indonesia di ambang resesi, kondisi permodalan perbankan saat ini masih sangat kuat untuk menghadapi pandemi covid-19.

"Saat ini CAR (capital adequacy ratio) kita sangat baik sehingga masih bisa menyerap peningkatan potensi NPL. Kita tahu perbankan pada krisis 1997-1998 bermasalah karena CAR-nya juga rendah," kata David dalam konferensi pers secara daring, kemarin.

Menurut David, permintaan akan kredit memang cenderung melemah saat ini, tetapi hal tersebut wajar terjadi karena perbankan lebih prudent untuk meyalurkan kreditnya.

David menambahkan, saat ini perbankan harus berhati-hati dalam penyaluran kredit sebab penyaluran kredit yang berlebih akan berisiko non-performing loan (NPL) atau kredit macet.

"Kondisi sekarang, kalau kita paksakan (kredit), sedangkan kondisi global juga masih seperti ini akan menjadi masalah ke depannya," ujarnya.

David pun optimistis penyaluran kredit perbankan masih akan tumbuh positif hingga 3% sampai akhir tahun, meskipun berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kredit perbankan hanya tumbuh 0,6% (yoy) pada Agustus 2020.

"Sebenarnya di kisaran 0% atau 3% hingga 4% (hingga akhir tahun) itu sudah sangat baik, kalau kita bandingkan dengan negara-negara lain. Jadi, kalu kita paksakan (tumbuh), kita khawatirnya malah akan ke kredit macet," ujar David.

Perlu diketahui, saat ini baik loan deposit ratio (LDR) maupun CAR masih berada dalam level yang aman dan stabil. Adapun LDR per Agustus 2020, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), berada di level 85,1%. Jauh lebih rendah dari posisi Desember 2019, yakni 94,4%. Sementara itu, CAR perbankan di 23,1% per Agustus 2020 sedikit menurun tipis dari Desember 2019 di 23,4%.

 

Penempatan dana

Salah satu faktor kuatnya modal bank ialah penempatan dana pemerintah di bank-bank pemerintah. Pada akhir Juni 2020, pemerintah menempatkan dana Rp30 triliun di Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara).

Pemerintah akan kembali menempatkan dananya sebesar Rp47,5 triliun di bank-bank tersebut. Rinciannya, Bank Mandiri mendapat Rp15 triliun, BRI Rp15 triliun, BTN Rp10 triliun, dan BNI Rp7,5 triliun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers, kemarin, mengatakan pada tahap II ini, bunga yang diberikan akan lebih rendah jika dibandingkan dengan tahap pertama yang mencapai 3,42%. "Bunganya di-pass through perbankan 2,84%," kata Airlangga.

Selain Himbara, pemerintah turut menempatkan dana pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Bank Syariah mencapai Rp11,2 triliun.

"Pada hari ini penempatan dana kepada dua BPD, BPD Sulawesi Selatan Barat Rp1 triliun dan BPD Kalbar Rp500 miliar, serta penempatan BPD Sumut dan BPD Jambi yang akan dilaksanakan maupun ditempatkan pada 8 Oktober," jelas Airlangga.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan pemerintah memiliki peran penting dalam menggelontorkan dana melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Dana yang dikucurkan pemerintah kepada berbagai sektor sebetulnya dapat menahan dampak tekanan pandemi covid-19. (Mir/E-3)

BERITA TERKAIT