03 October 2020, 06:05 WIB

Nyaris, Buku HTI Jadi Bacaan Wajib di Bangka Belitung


(RF/N-3) | Nusantara

RABU (30/9), Muhammad Soleh menandatangani surat yang mewajibkan para siswa SMA dan SMK di Bangka Belitung membaca buku berjudul Muhammad Alfatih 1453 yang ditulis Felix Siau. Penulis ini sudah dikenal luas sebagai aktivis Hizbut Tahrir Indonesia.

Dalam surat tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Bangka Belitung itu juga mewajibkan siswa untuk merangkum isi buku. Rangkumannya dikumpulkan di sekolah, dan secara berjenjang dilaporkan ke cabang dinas pendidikan hingga sampai ke meja Dinas Pendidikan Provinsi Bangka Belitung.

"Dalam rangka memupuk kesadaran untuk terciptanya semangat dalam berliterasi bagi peserta didik SMA dan SMK se-Bangka Belitung," tegas Soleh.

Surat perintah itu membuat udara Bangka Belitung yang panas menjadi semakin terik. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama pun memprotesnya.

"Kami menolak perintah Kepala Dinas Pendidikan. Kami sudah mengajukan protes kepada Gubernur Bangka Belitung atas surat yang dikeluarkan kepala dinas pendidikan," kata Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Bangka Belitung Muhammad Nur Fauzan.

Alasannya, buku Muhammad Alfatih 1453 bukan menanamkan semangat. "Buku ini menggiring pembaca untuk mengikuti konsep perjuangan khilafah versi HTI," tegasnya.

HTI, tambah dia, sudah ditetapkan sebagai organisasi terlarang. Adapun penulis buku itu, Felix Siau, sudah dikenal luas sebagai aktivis HTI.

"Apa yang dilakukan Kepala Dinas Pendidikan menggambarkan adanya upaya terstruktur dan sistematif untuk menumbuhkan ideologi khilafah versi HTI ke sekolah-sekolah di Bangka Belitung," tandas Fauzan.

Kemarin, Muhammad Soleh berdalih tidak tahu Felix Siau adalah aktivis HTI. "Kami minta maaf dan mengaku salah. Ini disebabkan ketidaktahuan saya kalau buku tersebut karya aktivis HTI."

Ia mengaku telah mengeluarkan surat yang mewajibkan siswa SMA dan SMK membaca buku itu dan membuat rangkumannya. Alasannya, buku Muhammad Alfatih 1453 menceritakan perjalanan perjuangan yang dinilainya bagus.

"Ketidaktahuan ini membuat kami segera membatalkan surat perintah itu. Dalam waktu dekat, kami alihkan ke buku lain. Prinsipnya ini ketidaktahuan kami," tambahnya. (RF/N-3)

BERITA TERKAIT