03 October 2020, 06:00 WIB

Revolusi Hijau Terus Berjalan di Kalimantan Selatan


(DY/N-3) | Nusantara

PADA 2017 lalu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mencanangkan gerakan Revolusi Hijau. Sebagai nakhodanya, Gubernur Sahbirin Noor menyatakan ini adalah gerakan penanaman pohon besar-besaran.

"Revolusi Hijau telah mampu mengurangi luas lahan kritis, memulihkan daerah aliran sungai, serta memberdayakan masyarakat sekitar hutan. Indeks kualitas lingkungan hidup Kalimantan Selatan juga terkatrol dari posisi 26 menjadi 19," ungkap Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan, Fathimatuzzahra, kemarin.

Gerakan menanam pohon besar-besaran ini tentu saja perlu dukungan kesediaan bibit. Untuk itu, Pemprov Kalimantan Selatan telah membangun persemaian permanen yang menyiapkan bibit tanaman bernilai ekonomi tinggi, termasuk buah-buahan.

"Persemaian permanen bertujuan menyediakan bibit berkualitas dalam jumlah besar pada waktu yang tepat sesuai dengan musim tanam. Tahun ini, kami ditugasi memproduksi bibit sebanyak 1,5 juta batang," tambah Kepala Balai Perbenihan Tanaman Hutan, Judita Nurdiana.

Persemaian lain dilakukan Badan Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Barito. Setiap tahun mereka menyediakan 2,5 juta bibit pohon untuk Revolusi Hijau. "Pohon kami bagikan gratis kepada masyarakat. Selain pohon kayu, kami juga membibitkan pohon buah-buahan," tandas Kepala Badan Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Barito, Zainal Arifin.

Gerakan pelestarian lingkungan di Kalsel juga dilakukan dengan mendorong bertambahnya sekolah Adiwiyata provinsi. Saat ini, sudah 500 sekolah di Kalsel yang berstatus sekolah Adiwiyata atau sekolah berwawasan lingkungan.

"Banyaknya sekolah yang bersedia berpartisipasi dalam program Adiwiyata membuktikan keinginan sekolah untuk membina dan menanamkan cinta lingkungan kepada peserta didik," ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Hanifah Dwi Nirwana. (DY/N-3)

BERITA TERKAIT