03 October 2020, 05:30 WIB

Jaga Diri dan Berpikir Positif


Ferdian Ananda Majni | Nusantara

MENJAGA diri dengan menerapkan disiplin protokol pencegahan covid-19 berarti besar dalam menahan laju penularan virus menular tersebut. Hal itu sekaligus meringankan tugas para tenaga kesehatan seiring dengan masih tingginya kasus covid-19 di Tanah Air.

Sekretaris Tim Mitigasi Dokter dalam Pandemi Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Ekasakti Octohariyanto menegaskan hal itu dalam acara bincang-bincang Satuan Tugas Penanganan covid-19 yang disiarkan akun Youtube BNPB Indonesia, kemarin.

"Karena pandemi ini masih panjang, fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan masih seperti ini, jumlahnya terbatas. Kita berusaha semaksimal mungkin, tetapi kalau kita tidak menjaga diri, ya, bisa jadi masuk ke ranah yang sakit. Masuk ke rumah sakit dan yang meninggal sekarang sudah banyak. Jadi, harus menjaga diri agar tidak sakit," beber Eka.

Masyarakat diimbau untuk rajin melakukan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak dari kerumunan.

Beberapa jurnal internasional mengungkapkan mencuci tangan dengan sabun dapat menurunkan risiko penularan sebesar 35%. Memakai masker kain dapat menurunkan risiko penularan sebesar 45%, sedangkan memakai masker bedah dapat menurunkan risiko penularan sebesar 70%. Berikutnya, menjaga jarak minimal 1 meter dapat menurunkan risiko penularan sampai dengan 85%.

Untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh, imbuh Eka, berolahragalah 3x dalam seminggu, konsumsi makanan bergizi, dan tetap berpikir positif.

"Tubuh manusia adalah konstruksi yang paling cerdas. Tanpa ada penambahan suplemen atau vitamin, asalkan melakukan itu, secara otomatis sistem kekebalan tubuh akan meningkat," sebutnya.

Ia mengingatkan masyarakat untuk menghindari makanan sampah (junk food) dan makanan manis yang terlalu banyak mengandung gula. Kedua makanan itu akan mengakibatkan kelainan metabolisme tubuh.

"Nasi yang kita makan sebenarnya akan menjadi gula. Karena itu, sebenarnya kita tidak memerlukan tambahan gula dari kopi atau teh yang manis," lanjutnya.

 

Adaptif

Psikolog Muhammad Chalid mengingatkan, dalam situasi pandemi ini semua orang dituntut untuk adaptif dengan melakukan kegiatan bekerja, belajar, bermain, dan beribadah yang harus lebih banyak dilakukan di rumah.

Meski sudah banyak orang yang mulai terbiasa, imbuh Chalid, kegiatan-kegiatan yang hanya bisa dilakukan di rumah itu tetap ada batasnya.

"Jangan karena dilakukan di rumah, kemudian kegiatan-kegiatan itu menjadi kebablasan. Misalnya proses belajar anak dari rumah harus dimulai pukul 07.00 pagi. Padahal pada saat itu anak-anak bisa menghirup udara segar dulu, bisa bermain-main di luar rumah dulu meskipun hanya sebentar," tuturnya.

Begitu pula dengan pekerja yang diharuskan bekerja dari rumah. Jangan sampai karena pekerjaan bisa dikerjakan dari rumah, mereka bekerja berlebihan.

"Sebelumnya bekerja di kantor hanya 8 jam. Karena bisa bekerja di rumah, kebablasan jadi bekerja 12 jam. Hal-hal itu bisa memengaruhi pikiran kita yang seharusnya dibawa berpikir positif menjadi negatif," katanya. (Ant/H-2)

BERITA TERKAIT