03 October 2020, 04:23 WIB

Salah Pandang Publik Persulit Penanganan


Atalya Puspa | Politik dan Hukum

MESKI sudah jelas-jelas menjangkiti dan mengakibatkan kematian banyak sekali orang, tak sedikit masyarakat Indonesia yang masih tidak percaya adanya covid-19. Hal itu mempersulit upaya untuk membendung penyebaran virus mematikan tersebut.

Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengungkapkan sebanyak 17% masyarakat Indonesia masih belum percaya dan merasa yakin tidak akan terkena covid-19. ‘’Ini angka yang sangat besar, 17% artinya sama dengan 44,9 juta orang,” ujarnya dalam acara Kickoff Sosialisasi Strategi Perubahan Perilaku Protokol Kesehatan Pencegahan Covid-19, kemarin.

Karena tak percaya dan merasa yakin tidak akan terpapar korona, banyak masyarakat yang tidak menaati protokol kesehatan. Menurut Doni, temuan itu didapatkan dari survei Badan Pusat Statistik (BPS) terhadap 90 ribu orang pada 14-21 September 2020.

“Sebanyak 55% masyarakat menyatakan mereka tidak mematuhi protokol kesehatan karena tidak ada sanksi. Di sini dapat dilihat bahwa tingkat kesadaran kolektif dan pribadi masih belum maksimal,” papar Doni.

Hasil survei juga memperlihatkan sebanyak 19% masyarakat enggan menerapkan protokol kesehatan karena minimnya contoh dari pimpinan dan pejabat publik. “Oleh karenanya, keteladanan sangat penting. Kita harus bisa memberikan contoh kepada masyarakat selama beraktivitas bersama masyarakat. Menggunakan masker, jaga jarak, dan hindari kerumunan.’’

Kondisi tersebut, kata Doni, menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk bisa meyakinkan bahwa covid-19 adalah nyata, bukan rekayasa, bukan kons pirasi. Korban jiwa di tingkat global juga sudah mencapai 1 juta orang dan yang terinfeksi 33 juta orang.

Satgas Penanganan Covid-19 pun menggandeng Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk melakukan sosialisasi 3M, yakni menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Sosiali sasi perlu dilakukan mulai individu, keluarga,
hingga komunitas.

“Tolong diingatkan kepada masyarakat bahwa permintaan pakar epidemiolog, dan pemerintah, agar kita mematuhi protokol kesehatan karena itu tidaklah sebanding dengan perjuangan para dokter. Bahkan tidak sedikit dokter yang gugur dalam tugasnya merawat pasien,” tandas Doni.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menyambut baik permintaan Satgas Penanganan Covid-19 untuk ikut meningkatkan kesadaran di tengah masyarakat. “Kita sadari bahwa sangat penting untuk bahu-membahu, gotong royong, agar kita punya kekuatan besar. Karena itu, kami sangat mendukung konsep yang ada di lapangan. Kita akan berupaya mengubah perilaku masyarakat agar tertib menerapkan protokol.”

Terbentur budaya

Secara terpisah, Staf Khusus Menteri Bidang Pembangunan dan Pembiayaan Kesehatan Kementerian Kesehatan Alexander K Ginting mengatakan penanganan covid-19 di Indonesia memang menghadapi banyak tantangan

Dalam webinar Dialektika bertajuk Covid-19 Contact Tracing: Antara Privasi & Kesehatan Publik yang diadakan Media Indonesia kemarin, ia menyebut salah satu tantangan itu menyangkut budaya.

Dia memberikan contoh, ketika seseorang mengalami sakit dan tidak terbukti covid-19, para tetangga berkumpul untuk menjenguk. Hajatan yang menyebabkan banyak orang berkerumun juga masih berlangsung sehingga memicu penularan korona.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan bukan sesuatu yang mudah untuk mengubah pemahaman masyarakat tentang covid-19. “Kalau mau masyarakat berubah, mulai dari para pemimpin. Ini PR besar dan menyangkut juga dengan strategi komunikasi yang baik dan benar harus dilakukan oleh pemerintah,” tandasnya. (Aiw/Iam/X-8)

BERITA TERKAIT