03 October 2020, 00:24 WIB

Pers Punya Peran Peting dalam Penanganan Covid-19


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

SEKITAR tujuh bulan lamanya pandemi covid-19 berlangsung di Indonesia dan semua pihak memiliki peranan penting dalam menghadapi kondisi ini, termasuk pers. Duta Besar RI untuk Singapura Suryo Pratomo mengatakan, pers memiliki tiga peran penting bagi masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19, yaitu mencerdaskan, mencerahkan, dan mengawasi.

Mencerdaskan yakni memberikan informasi yang bisa membuat masyarakat paham bagaimana cara melindungi diri agar tidak terinfeksi covid-19. Mencerahkan yakni bagaimana mengajak masyarakat melakukan tindakan yang benar. Sedangkan fungsi pengawasan yakni bagaimana mengoreksi kinerja pemerintah agar dapat bekerja lebih baik.

Namun, Suryo memandang, sepanjang empat bulan pertama pandemi covid-19, sangat sedikit informasi yang bisa memberikan edukasi dan menggambarkan secara lengkap kepada masyarakat tentang covid-19.

“Yang terjadi sekarang adalah komunikasi yang asimetris. Kebiasaan yang terjadi pada kita kalau berita datang dari luar, diangkat sebagai sebuah kebenaran. Yang dikhawatirkan itu adalah menimbulkan ketidakpercayaan kepada pemerintah, adanya pembangkangan sosial, mencitakan keresahan yang menyebabkan gangguan ekonomi dan terakhir adalah krisis politik. Padahal ini adalah masalah kesehatan yang harus dilihat dari kacamata kesehatan dan bagaimana kita sama-sama menghadapinya,” ujar Suryo dalam diskusi daring, Jumat (2/10).

Dia menuturkan, berdasarkan survei yang dilakukan beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat atau 66,3 persen mendapatkan informasi dari media sosial, 51,5 persen dari televisi, 46,7 persen dari berita online, 43 persen dari website, 13,7 persen dari media cetak, 5,1 persen dari radio, bahkan 1,9 persen tidak mengakses informasi kesehatan sama sekali.

Baca juga : Peran Media Dibutuhkan dalam Sosialisasi Mitigasi Tsunami

Menurut Suryo, yang kemudian semakin menimbulkan persoalan dalam penanganan covid-19 yakni apabila media mainstream justru mengekor pada isu yang beredar di sosial media tanpa mengetahui kebenarannya.

“Kemudian multiplikasi menjadi sebuah berita bahkan kemudian diangkat menjadi isu. Ini yang seringkali menjadi perosalan yang menambah komplikasi yang dihadapi dalam upaya kita menangani covid-19 sekarang ini,” tutur pria yang akrab disapa Tommy itu.

Sedangkan menurut Ketua Dewan Pers M Nuh, pers memiliki peran penting dalam menumbuhkan kepedulian, partisipasi, dan edukasi publik, sebab pandemi covid-19 tidak dapat diselesaikan sendiri oleh pemerintah.

Dalam mengedukasi publik, pers harus memiliki pengetahuan khusus dan ketajaman dalam membaca data yang akurat, misalnya dalam memberikan pemahaman tentang vaksin kepada masyarakat mulai dari pengertian hingga manfaatnya agar masyarakat dapat menerima keberadaan vaksin.

“Begitu kita melakukan edukasi publik, maka kata kuncinya di data akurasi dari data akurasi itulah maka kita akan dapat info yang kredibel. Begitu informasi yang kita dapatkan kredibel maka kita punya pengetahuan tentang kejadian-kejadian itu di situlah kita punya wisdom,” tandasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT