03 October 2020, 02:45 WIB

Libanon-Israel Segera Negosiasi Perbatasan


MI | Internasional

LIBANON dan Israel mengatakan bah wa mereka akan mengadakan negosiasi yang ditengahi AS terkait sengketa tanah dan perbatasan laut.

Hal itu pembicaraan pertama dalam beberapa dekade antara dua negara yang secara teknis masih berperang. Ketua Parlemen Libanon, Nabih Berri, mengatakan bahwa AS akan bertindak sebagai fasilitator selama pembicaraan yang akan diadakan di kota perbatasan Libanon selatan Na qoura.

Dia menjelaskan kesepakatan kerangka kerja telah dicapai untuk memulai negosiasi dan membacakan salinannya pada 22 September. “Amerika Serikat diminta oleh kedua belah pihak, Israel dan Libanon, untuk bertindak sebagai mediator dan fasilitator untuk menyusun perbatasan laut dan siap untuk melakukan ini,” katanya, Kamis (1/9).

Mengenai masalah perbatasan laut, pembicaraan terus-menerus akan di adakan di Markas Besar PBB di Naqoura di bawah sponsor PBB. “Perwakilan AS dan koordinator khusus AS untuk Libanon siap memberikan risalah pertemuan bersama yang akan mereka tanda tangani dan tunjukkan kepada Israel dan Libanon untuk ditandatangani pada akhir setiap pertemuan,” tambahnya.

Di Israel, Menteri Energi Youval Steinitz mengatakan, dalam sebuah pernyataan bahwa negosiasi langsung akan diadakan setelah pesta Yahudi Sukkot yang berakhir 10 Oktober. Pembicaraan yang akan dilaksanakan itu pun mendapat respons positif dari dunia internasional. Pasukan penjaga perdamaian PBB yang berpatroli di perbatasan bersama menyambut baik berita tersebut.

“(UNIFIL) menyambut baik pengumuman hari ini tentang kesepakatan kerangka kerja untuk memulai ne gosiasi antara Libanon dan Israel tentang demarkasi perbatasan laut antara kedua negara,” katanya.

Di sisi lain, sebanyak tujuh negara Arab atau muslim kemungkinan akan mengikuti jejak yang diambil oleh Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan menandatangani perjanjian untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.

Hal itu diungkapkan penasihat khusus Presiden AS Donald Trump tentang negosiasi Timur Tengah, Avi Berkowitz. (Van/Hym/AFP/Arab News/I-1)
 

BERITA TERKAIT