02 October 2020, 23:48 WIB

Luhut Dorong Bio Farma Produksi 3,5 Juta Alat Tes PCR per Bulan


Insi nantika jelita | Humaniora

MENTERI Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mendorong perusahaan farmasi BUMN, PT Bio Farma meningkatkan jumlah alat tes PCR menjadi 3,5 juta unit per bulan.

Hal itu disampaikan Luhut dalam Rapat Koordinasi (Rakor) daring pengembangan produk produk PCR dan tes rapid dalam negeri di Jakarta, Jumat (2/10).

"Alat tes PCR Bio Farma sudah bisa produksi 1.5 juta dan bisa naik 3.5 juta per bulan. Tapi yang betul-betul mesti diperhatikan adalah stok reagennya," kata Luhut dalam keterangan resminya.

Reagen sendiri diperlukan untuk ekstraksi yang digunakan dalam pengecekan spesimen covid-19. Reagen berisi sejumlah senyawa kimia untuk mendeteksi SARS-CoV-2, virus penyebab penyakit menular tersebut.

"Reagen ini saya minta Pak Honesti (Dirut Bio Farma) untuk juga produksi dalam negeri. Produksi dalam negeri masih terbatas, sekarang bagaimana kita tingkatkan kapasitas itu,” ungkap Luhut.

Luhut juga meminta segera memproduksi alat PCR tes dan tes rapid untuk memenuhi kebutuhan pemeriksaan dalam negeri. Ia menegaskan agar kapasitas produksi domestik dapat terserap terlebih dahulu dan impor bila produksi dalam negeri tidak mencukupi.

baca juga : Tarif Batas Atas Pemeriksaan PCR Rp900 Ribu

“Oleh karena itu nanti BUMN kita dorong untuk membantu investasi dalam bidang ini,” Wakil Ketua Komite Kebijakan Pengendalian Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional itu.

Menanggapi Menko Luhut, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza yang juga hadir dalam rapat tersebut mengatakan, tim gugus tugas untuk riset inovasi covid 19 telah siap memproduksi beberapa produk penilaian secara massal.

Bekerja sama dengan PT Prodia, PT Tempo Scan Pasific dan PT Padma, menurutnya, BPPT telah mampu meningkatkan produksi tes rapid hingga lebih dari 2 juta alat per bulan.

“Beberapa produk yang digunakan untuk screening seperti tes rapid telah dapat diproduksi secara massal,” tambahnya. Bila kita ingin memenuhi kebutuhan yang proyeksinya 6 juta per bulan dengan asumsi 200 tes per hari kali 30 hari,” urainya.

Lebih jauh, Hammam juga menjelaskan bahwa BPPT telah berhasil membuat alat tes PCR kit pada Maret lalu bersama dengan startup biomolekuler milik Bio Farma.

"Yang sekarang berhasil memasuki generasi yang kedua dengan menggunakan metode multiplex berbeda dengan simulfex karena tingkat akurasi dan kecepatannya,” bebernya," pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT