03 October 2020, 09:25 WIB

Padang Lamun Indonesia Mampu Serap 7,4 Mega Ton Karbon Per Tahun


Zubaedah Hanum | Humaniora

TOTAL cadangan karbon yang tersimpan di ekosistem padang lamun Indonesia mencapai 1.005 kilo ton karbon dengan potensi penyerapan karbon sebesar 7,4 mega ton karbon per tahun. Demikian hasil studi sejumlah peneliti Indonesia yang telah dipublikasikan dalam majalah ilmiah internasional, Ocean Science Journal pada Februari 2020.

"Rata-rata cadangan karbon lamun di Indonesia tercatat maksimum sebesar 0,36 dan 0,79 ton karbon per hektar, masing-masing untuk cadangan karbon atas dan bawah permukaan," sebut A'an Johan Wahyudi, peneliti Biogeokimia Laut Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) seperti dikutip dari laman LIPI, Sabtu (3/10).

Sebagai tumbuhan autotrofik, lamun mengikat karbondioksida (CO2) dan mengubahnya menjadi energi  yang sebagian besar memasuki rantai makanan, baik melalui pemangsaan langsung oleh  herbivora  maupun melalui dekomposisi sebagai serasah. Produktivitas primer padang lamun relatif tinggi di pesisir.

A'an menuturkan, riset karbon biru padang lamun menemukan momentumnya sekitar awal 2013 lalu, ketika dimulainya riset untuk menentukan neraca karbon, di samping inventarisasi dan riset ekologis ekosistem. Namun, terkendala oleh sarana laboratorium dan akses lapangan, wilayah Indonesia yang luas tidak cukup terwakili.

Tercatat hanya ada sembilan lokasi di Indonesia yang telah diteliti dalam rangka riset karbon biru. Sebaran wilayah ini masih jauh dari cukup. Meskipun demikian, terdapat data dan informasi terkait padang lamun (biomas, kepadatan dan persentase tutupan) di sekitar 19 lokasi di Indonesia yang diperoleh dari program COREMAP-CTI.

Termotivasi oleh inisiatif PRK, imbuh A'an, peneliti dari berbagai lembaga tergerak untuk saling berbagi data dan informasi terkait riset karbon biru pada 2018 lalu.
 
Data lengkap neraca karbon padang lamun dari sembilan lokasi kemudian dikombinasikan dengan data dari 19 lokasi lainnya. Model statistik yaitu Robust Linear Mixed Models (rLMMs) digunakan untuk menentukan korelasi antar parameter padang lamun terkait neraca karbon, yaitu biomassa, kepadatan, persentase tutupan, cadangan karbon, dan serapan karbon.
 
"Hanya ada 13 lokasi (dari 28 lokasi) yang cukup lengkap untuk digunakan datanya dalam penentuan formula model. Hasil kerja tim peneliti tersebut akhirnya dapat dipublikasikan dalam majalah ilmiah internasional, Ocean Science Journal.
 
Minim
Padang lamun merupakan ekosistem laut dangkal yang didominasi oleh tumbuhan lamun, yaitu tumbuhan berbunga yang telah beradaptasi dengan air asin. Laut Indonesia tercatat memiliki 13 spesies lamun dari 60 spesies yang tercatat di dunia.
 
Tidak seperti ekosistem terumbu karang dan mangrove, padang lamun mendapat perhatian yang relatif minim. Namun demikian, hasil riset di seluruh dunia menyatakan berbagai nilai penting dari padang lamun terutama karena layanan ekosistemnya.
 
Layanan ekosistem yang dimaksud misalnya sebagai tempat pemijahan dan pembesaran berbagai spesies ikan, penyaring material tersuspensi pada air laut, sumber makanan mamalia laut dugong, dan layanan karbon biru untuk mitigasi perubahan iklim.
 
Istilah karbon biru digunakan untuk karbon yang diserap, disimpan dan dilepaskan kembali oleh ekosistem vegetasi laut (mangrove dan padang lamun). Karbon biru menjadi layanan ekosistem yang penting terutama karena terkait aksi mitigasi perubahan iklim melalui penurunan emisi karbon. (H-2)

BERITA TERKAIT