02 October 2020, 18:32 WIB

Perairan Indonesia masih Berpotensi Terjadi Gelombang Tinggi


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berpeluang terjadi di beberapa wilayah perairan Indonesia pada 2-3 Oktober 2020. Pusat tekanan rendah (1007 hPa) berada di Laut Cina Selatan.

Kepala bidang Humas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Taufan Maulana mengatakan terdapat sirkulasi udara di Samudra Hindia barat Sumatra dan Samudra Pasifik utara Biak. Pola angin di wilayah Indonesia umumnya dari Tenggara-Barat Daya dengan kecepatan 5-25 knot.

"Kecepatan angin tertinggi terpantau di perairan Pulau Enggano, Bengkulu, selatan Pulau Yos Sudarso, Laut Arafuru bagian timur," kata Taufan dalam keterangannya, Jumat (2/10).

Kondisi itu mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang 1,25-2,50 meter (sedang) berpeluang terjadi, di antaranya Selat Malaka, perairan Barat Aceh-Kepulauan Mentawai, perairan timur Kepulauan Simeulue-Kepulauan Mentawai, Teluk Lampung bagian selatan, Laut Natuna utara, Perairan Kepulauan Natuna, Laut Natuna, Selat Karimata bagian selatan, Laut Jawa, perairan selatan Kalimantan-Kotabaru, perairan utara Jawa Timur-Kepulauan Kangean, Laut Bali, Laut Sumbawa, dan Selat Lombok bagian utara.

Selanjutnya Selat Sape bagian selatan-Selat Sumba bagian barat, Laut Sawu bagian utara-Selat Ombai, perairan selatan Flores, perairan Pulau Sawu-Kupang-Pulau Rote, Selat Makassar bagian tengah dan selatan, Laut Flores bagian barat, perairan Kepulauan Sabalana-Kepulauan Selayar, Teluk Bone bagian selatan, perairan Baubau-Kepulauan Wakatobi, perairan timur Sulawesi Tenggara, Teluk Tolo, perairan selatan Kepulauan Banggai-Kepulauan Sula, Laut Maluku, perairan Kepulauan Sangihe-Kepulauan Talaud, perairan timur Halmahera, perairan utara Papua, Samudra Pasifik utara Halmahera dan Papua.

Kemudian, gelombang yang lebih tinggi kisaran 2,50-4,0 meter (tinggi) berpeluang terjadi di beberapa perairan Indonesia lain, di antaranya perairan utara Sabang, perairan Pulau Enggano-Bengkulu, perairan barat Lampung, Samudra Hindia barat Sumatra, Selat Sunda bagian barat dan selatan, perairan selatan Jawa-Pulau Sumba, Selat Bali-Lombok-Alas bagian selatan, Laut Sawu bagian selatan, Samudra Hindia selatan Jawa-NTT, Laut Flores bagian timur, Laut Banda, perairan Kepulauan Sermata-Kepulauan Tanimbar, perairan selatan Kepulauan Kei-Kepulauan Aru, Laut Arafuru.

Potensi gelombang tinggi di beberapa wilayah itu berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Untuk itu, BMKG selalu mengimbau masyarakat untuk selalu waspada. Ini terutama bagi nelayan yang beraktivitas dengan moda transportasi seperti perahu nelayan (kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 m), kapal tongkang (kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 m), kapal feri (kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 m), serta kapal ukuran besar seperti kapal kargo/kapal pesiar (kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4,0 m).

"Kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi dimohon agar selalu waspada," pinta Taufan. (OL-14)

BERITA TERKAIT