02 October 2020, 14:50 WIB

Pelaku Usaha Online Diharapkan Ikut Tekan Penggunaan Plastik


Astri Novaria | Humaniora

SAMPAH plastik ternyata meningkat selama pandemi virus korona. Penyebabnya adalah ketergantungan yang besar pada layanan pengiriman makanan dan belanja online di tengah pandemi, sementara daur ulang telah menurun.

Hal ini pun diakui oleh Direktur Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Tiza Mafira. Dalam program Nunggu Sunset yang ditayangkan secara langsung, Kamis (1/10) kemarin, Tiza menyebut ini adalah salah satu tantangan yang dihadapi dalam menekan penggunaan plastik sekali pakai di Indonesia, terutama di masa pandemi Covid-19.

Baca juga: Perilaku Disiplin 3M Kunci Utama Menekan Penularan Covid-19

"Ini yang kita soroti. Kita harap ada evaluasi bagaimana cara mengatur ini karena kita tidak bisa terus menerus seperti ini sebab nantinya kita tetap akan mengalami masalah dengan plastik sekali pakai," ujar Tiza.

Menurutnya, larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai yang digalakkan oleh Pemprov DKI lewat Pergub Nomor 142 tahun 2019, mengatur kewajiban penggunaan kantong plastik belanja ramah lingkungan pada pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan pasar rakyat.

"Jadi memang sebetulnya ini menyasar ke toko swalayan, pusat perbelanjaan dan pasar rakyat. Harapan kami sih ini menular juga ke usaha online," tandasnya.

Lebih lanjut kata Tiza, saat ini juga sudah mulai bermunculan pengusaha di platform digital yang mengadaptasi pengurangan plastik sekali pakai.

"Jadi ada opsi mau pakai plastik atau tidak, kalau tidak berarti dibungkusnya menggunakan kardus. Bubble wrap pun bisa diganti dengan koran yang dibejek-bejek," paparnya.

Namun, kata Tiza, belum banyak pihak yang melakukan adaptasi ini dalam usahanya. Malah, masih banyak yang ia temukan, barang yang dibungkus bubble wrap secara eksesif.

Meskipun demikian, Tiza sangat yakin dan optimistis apa yang dilakukan Pemprov DKI dengan mengeluarkan larangan penggunaan sampah plastik sekali pakai bisa berbuah manis ke depannya, yakni bisa meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan konsumen.

"Saya meyakini pemerintah serius. Jakarta bukan kota yang pertama melakukan ini bahkan lumayan bontot. Mungkin ke 30 sekian dan yang pasti Jakarta adalah provinsi kedua setelah Bali yang menerapkan larangan penggunaan plastik sekali pakai. Dengan adanya kebijakan itu, banyak pemda yang akhirnya tertarik dan ikut juga karena menganggap hal ini efektif mengurangi beban jumlah plastik," paparnya.

Tiza berpendapat, Jakarta sama dengan kota yang lainnya dalam mengimplementasikan larangan penggunaan plastik sekali pakai. Untuk diketahui, pada tahun 2016, kebijakan kantong plastik berbayar pernah diuji coba di 23 kota di seluruh Indonesia sejak 21 Februari 2016. Hal ini pun menurut Tiza efektif memberikan efek kejut buat daerah lainnya bahwa memang ada persoalan terkait kantong plastik.

"Saya senang akhirnya ada efek bola salju ini. Karena yang mau kita capai adalah sebuah ekonomi yang serba reusable," terangnya.

Baca juga: Edutech Topang Lompatan PJJ Indonesia

Berdasarkan pemantauannya, Tiza berpendapat sudah banyak masyarakat Jakarta yang membawa tas belanjaannya sendiri ketika berbelanja dan mengurangi penggunaan kantong plastik.

"Survey yang kami lakukan juga menunjukkan 90% warga Jakarta sudah membawa tas belanjaan sendiri. Sebelum bicara kuantitas, yang kita lihat memang ada perubahan sikap dari pemakaian plastik sekali pakai ke tas belanjaan sendiri yang bisa digunakan berkali-kali," pungkasnya.
 


 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Media Indonesia (@mediaindonesia) on

(OL-6)

BERITA TERKAIT