02 October 2020, 14:05 WIB

Kinerja Ekspor Batik Berkibar di Tengah Pandemi


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

MENTERI Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita melaporkan naiknya volume ekspor batik di tengah lesunya perdagangan global akibat pandemi covid-19.

Jika dibandingkan dengan nilai ekspor batik hingga semester pertama di 2019 yang mencapai US$17,99 juta, di kurun waktu Januari hingga Juli 2020 sudah mencapai US$21,54 juta, dengan pasar ekspor utama ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

"Fenomena ini cukup unik karena pasar ekspornya bisa meningkat di saat masa pandemi covid-19. Usaha membuka pasar-pasar baru tingkat global diharapkan bisa membantu kembali menggairahkan kinerja industri batik Indonesia," jelas Agus dalam Peringatan Hari Batik Nasional secara virtual, Jakarta, Jumat (2/10).

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, sambungnya, saat ini industri batik mencapai 47.000 unit dan tersebar di 101 sentra.

"Hampir semuanya dalam skala industri kecil. Namun produk batik berperan dalam perolehan devisa negara, meski kebanyakan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri," terang Agus.

Selain merupakan warisan budaya bangsa, lanjutnya, batik juga merupakan komoditi industri yang cukup penting.

"Industri tersebut dinilai mempunyai daya jual besar dalam penciptaan nilai tambah, perdagangan, besaran investasi, dampak terhadap industri lainnya, serta kecepatan penetrasi pasar," papar Agus.

Ia menambahkan, batik yang merupakan bagian dari industri tesktil dan busana, menjadi salah satu sektor prioritas dalam implementasi Peta Jalan Making Indonesia 4.0 dengan tetap mempertahankan nilai-nilai keunggulannya.

"Tak bisa dipungkiri, bahwa setiap perkembangan teknologi selalu menjanjikan kemudahan, efisiensi, serta peningkatan produktifitas," kata Agus. (E-2)

BERITA TERKAIT