02 October 2020, 12:50 WIB

TMC Tahap Ketiga di Riau Berhasil Kurangi Karhutla


Ferdian Ananda Majni | Nusantara

TEKNOLOGI Modifikasi Cuaca (TMC) diarahkan menjadi salah satu solusi permanen pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). TMC dilakukan terutama di provinsi yang rawan karhutla melalui rekayasa hujan dengan penyemaian awan.

Pada 2020, operasi itu sudah dilaksanakan sejak Februari dan hingga saat ini masih terus dilaksanakan di Provinsi Riau, Sumatra Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Basar Manullang, mengungkapkan operasi TMC ini dilaksanakan untuk menindaklanjuti arahan Presiden dan Menteri LHK untuk melakukan mitigasi dan upaya menetapkan solusi permanen dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan.

Baca juga: Mini Lockdown Harus Diiringi Testing, Tracing, dan Pemetaan

Kegiatan TMC merupakan upaya sinergi bersama dan dukungan para pihak meliputi KLHK, BPPT, BNPB, TNI AU, BMKG dan Satgas Dalkarhutla Provinsi.

"Periode ketiga ini, TMC dilaksanakan di Riau sejak Jumat (24/7) hingga Selasa (30/9). Kita melakukan 50 sorti dengan NaCl yang disemai sebnyak 40 ton dengan perkiraan menghasilkan air hujan 108,5 juta m3. Operasi dinilai cukup berhasil mengurangi dan memitigasi terjadinya kebakaran," sebut Basar di Jakarta, Jumat (2/10).

Selanjutnya, Basar mengungkapkan, selain di Riau, TMC juga dilaksanakan di Sumatra Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat.

Posko operasi yang berpusat di Sri Mulyono Herlambang Palembang itu telah melakukan penyemaian awan sebanyak 40 sorti dengan NaCl yang disebar sebanyak 83,25 ton.

“Sampai Senin (29/9), TMC yang kita lakukan sudah menghasilkan hujan dengan volume yang cukup untuk membasahi lahan sehingga menurunkan potensi karhutla,” sebut Basar.

Menurut laporan Tim Posko TMC di Provinsi Sumatra Selatan, volume air hujan yang dihasilkan diperkirakan sebanyak 786,80 juta m3, di Provinsi Jambi sebanyak 369,22 juta m3, di Kalimantan Barat sebanyak 199 juta m3.

"Dengan berbagai upaya pengendalian karhutla di tahun ini, kita harapkan tingkat karhutla yang terjadi di Indonesia akan semakin menurun," pungkasnya.

Perbandingan total jumlah hotspot pada 2019 dan 2020 (tanggal 1 Januari – 1 Oktober), berdasarkan Satelit NOAA Conf. Level 80% terpantau 669 titik, pada periode yang sama pada 2019, jumlah hotspot sebanyak 7.375 titik (terdapat penurunan sebanyak 6.706 titik atau 90,93%).

Sedangkan berdasarkan Satelit Terra/Aqua (NASA) Conf Level 80% pada 2020 terpantau 1.849 titik, pada periode yang sama 2019 jumlah hotspot sebanyak 22.608 titik (terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 20.759 titik atau 91,82%). (OL-1)

BERITA TERKAIT