02 October 2020, 03:10 WIB

Situasi Sektor Keuangan Dinamis


Despian Nurhidayat | Ekonomi

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan kinerja pasar saham dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) di pasar modal kembali meng alami tekanan dalam beberapa hari terakhir.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menuturkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia kembali berada di level 5.000 sejak 21 Septem ber lalu. Padahal, sebelumnya sejak 8 Juli, IHSG konsisten untuk berada di atas le vel 5.000.

“Ini disebabkan kekhawatiran investor terhadap phase recovery pandemi yang lebih lambat dari ekspektasi sebelumnya dengan positivity rate Indonesia yang cukup tinggi,” ungkapnya dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi XI DPR RI, Kamis (1/10). Wimboh menambahkan, di pasar saham, tercatat net sell sebesar Rp15,1 triliun dari awal tahun hingga saat ini (year to date), sedangkan di pasar SBN tercatat net sell sebesar Rp3,2 triliun ytd. Namun, untuk yield obligasi pemerintah di seluruh tenor masih membaik, tercatat menunjukkan penurunan 39,52 bps.

“Yang menggembirakan, di tengah tekanan terhadap pasar keuangan domestik, ter nyata minat masyarakat untuk mencari pen danaan di pasar modal masih tinggi.

Penghimpunan dana publik hingga September 2020 telah mencapai Rp85,9 triliun dengan 40 emiten baru. Saat ini penawaran umum dalam proses tercatat sebesar Rp20,5 triliun. Jumlah investor domestik juga terus meningkat mencapai 3,14 juta investor,” tandas Wimboh.

Di tengah animo masyarakat yang masih tinggi untuk berinvestasi, pemerintah ke - ma rin kembali menerbitkan Obligasi Ritel (ORI) seri 018 yang dapat dibeli hingga 21 Oktober 2020.


Terus berinvestasi

Kemarin, IHSG ditutup menguat100,06 poin atau 2,05% ke posisi 4.970,09. Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 23,9 poin atau 3,24% menjadi 761,05. “Pasar sepertinya lebih mengapresiasi kenaikan kinerja infl asi yoy menjadi 1,42% dari 1,32% pada hasil perilisan bulan lalu,” kata analis Bina Artha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama.

Selain itu, lanjut Nafan, pelaku pasar juga mengapresiasi tren perkembangan uji coba vaksin covid-19 yang semakin positif sehingga proses vaksinasi massal ke depannya bisa dipercepat.

Sementara itu, DBS Group regional Singapura menekankan agar investor berinvestasi dengan aset berisiko ekuitas saham dan obligasi korporasi, terlepas dari pertempuran global saat ini melawan covid-19.

Setelah resesi tajam, tanda-tanda pemulihan ekonomi mulai terlihat. Pelonggaran lebih lanjut dari pembatasan pergerakan, peningkatan pengeluaran fi skal secara global, dan suku bunga The Fed di kisaran 0%, akan memastikan normalisasi bertahap da - lam menuju pertumbuhan.

Hou Wey Fook, DBS Chief Investment Offi - cer (CIO), mengatakan memasuki kuartal terakhir 2020, ada dua perkembangan yang harus diperhatikan investor, yaitu pemilihan presiden AS dan penemuan vaksin.

Strategi Barbel DBS CIO telah menunjukkan ketahanan dan mendapatkan nilai yang baik, bahkan dalam periode yang paling tidak pasti ini.

Dia menyarankan investor te tap berinvestasi dalam ekuitas pertumbuhan sekuler, aset penghasil pendapatan, dan emas di dunia digital baru ini, di tengah lingkungan suku bunga yang sangat rendah.

Kemarin, indeks harga saham di beberapa bursa Asia ditutup bervariasi. Bursa Filipina naik 1,38%, demikian juga dengan bursa Si - ngapura yang naik 1,38%. Adapun bursa Ma - laysia ditutup melemah 0,53%. (Try/Ant/E-1)

BERITA TERKAIT