02 October 2020, 05:22 WIB

Sektor Manufaktur kembali Mengendur


Mir/Try/Ant/X-3 | Ekonomi

SETELAH terkerek naik ke level 50,8 pada Agustus lalu, Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali beringsut ke posisi 47,2 di bulan berikutnya.

Turunnya angka indikator ekonomi yang mencerminkan keyakinan para manajer bisnis di sektor manufaktur selama September tersebut dipicu anjloknya penjualan dan produksi barang-barang pascapenerapan PSBB jilid 2 di DKI Jakarta dan di sejumlah daerah lainnya.

“Tertekannya aktivitas industri manufaktur yang membuat turunnya PMI Manufaktur Indonesia dari 50,8 pada Agustus menjadi 47,2 pada September. Ini penurunan pertama sejak April,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu dalam siaran resmi, kemarin.

Akibat lanjutannya, demi efisiensi dunia usaha pun mengurangi pembelian bahan baku. Di sisi lain, tidak bisa dimungkiri sejumlah perusahaan berlomba memberikan diskon untuk menggenjot penjualan produk mereka.

“PSBB juga menghambat kemampuan penyedia bahan baku untuk memasok tepat waktu. Kendati demikian, respons pemerintah sudah berada di jalur yang benar dan perlu memperkuat penanganan covid-19,” ujar Febrio.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan resminya kemarin menyoroti kebijakan PSBB jilid 2 di DKI dan perpanjangan PSBB di Jawa Barat serta Banten yang membuat kegiatan ekonomi masyarakat melambat.

“Terdapat perbedaan skala antara industri manufaktur di Indonesia dengan negara-negara ASEAN, tidak apple to apple karena kontribusi bagi ekonomi dan jumlah industrinya berbeda,” tutur Agus.

Berdasarkan data Manufacturing Value Added, industri manufaktur Indonesia jauh lebih besar daripada negara-negara ASEAN lain.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir, sepemahaman bahwa PSBB jilid 2 di DKI dan beberapa daerah lain menyebabkan turunnya PMI Manufaktur. Namun, aspek kesehatan harus seiring percepatan pemulihan ekonomi nasional.

“Kemungkinan (PMI Manufaktur) Oktober meningkat lagi. PSBB secara mikro di zona merah dan bukan di seluruh provinsi atau kota/kabupaten agar roda perekonomian tidak terhenti,” jelas Iskandar, kemarin.

Kepala Ekonom IHS Markit, Bernard Aw, mengakui di tengah peningkatan kasus covid-19, penerapan kembali PSBB memang langsung memengaruhi pemulih an manufaktur Indonesia (lihat grafik).

Data terkini yang dirilis penerbit PMI Manufaktur ini mengindikasikan kemerosotan penjualan dan produksi menurun secara solid di penghujung triwulan III setelah mengalami pertumbuhan nyata pada bulan sebelumnya.

“Apakah pemulihan ekonomi yang kuat akan mengakar sebagian besar bergantung pada kemampuan negara mengendalikan pandemi. Harapan tahun depan tetap positif, tetapi amat bergantung pada perkembangan situasi covid-19,” tandas Bernard. (Mir/Try/Ant/X-3)

BERITA TERKAIT