02 October 2020, 03:00 WIB

Strategi Kota Kala Korona


Nirwono Joga Pusat Studi Perkotaan | Opini

SETIAP Senin pertama di awal Oktober, kita merayakan Hari Habitat Sedunia, yang tahun ini mengusung tema Housing for all: A better urban future. Kota dan kesehatan memegang peranan penting terhadap bentuk perkotaan, desain perkotaan, dan konektivitas. Kota dan wabah sangat berkaitan karena wabah mudah menyebar di kota besar padat penduduk. Mobilitas di kota sangat tinggi karena desain kota tidak kompak dan tidak terpadu.

Ada tantangan baru dalam pengembangan kota. Kota kala wabah akibat bencana nonalam (virus korona) membuat ribuan kota kosong, mencekam, dan mati suri. Dampak wabah sangat parah ssehingga dapat diklasifikasikan sebagai stressor transformatif.

Perencanaan pemulihan kota perlu memperhitungkan kemungkinan terburuk, bahwa virus korona mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Ini menjadi risiko kehidupan kota dan kita ke depan.

Stresor transformatif memberi peluang unik bagi para pembuat kebijakan untuk bekerja di luar metode normal. Dampak transformatif dari wabah ini menimbulkan pertanyaan mendasar, yakni apakah orang-orang memiliki antusiasme yang sama untuk kehidupan kota. Apakah sudah waktunya untuk merencanakan kota dengan realitas perkotaan kenormalan baru. Lalu, seperti apa realitas baru itu dan bagaimana hal itu bisa dicapai?

Di samping itu, akibat ketidakpastian, masyarakat semakin ambiguitas. Kelas menengah atas pesimistis dan tidak siap menghadapi kondisi kenormalan baru. Virus korona ialah ancaman nyata terhadap kehidupan mereka. Selama tidak ada sistem proteksi terhadap ancaman virus, kelas menengah atas tetap pesimistis.

Sementara itu, kelas menengah bawah sebaliknya, merasa optimistis terhadap perubahan. Sekalipun penanganan virus belum terkendali, mereka tetap memiliki rasa antusias menjalani perubahan.

Desakan ekonomi menyisihkan kekhawatiran terhadap ancaman kesehatan dan kematian.


Tantangan

Ada beberapa tantangan strategi perencanaan kota ke depan. Pertama, bagaimana membangun sistem proteksi kota yang kuat terhadap ancaman kesehatan. Bagaimana fenomena kota yang terjadi saat wabah ini, apakah sudah ada gagasan untuk mengantisipasi fenomena ancaman wabah terhadap pengembangan kota.

Kota harus mampu bangkit dan memulihkan diri melewati masa wabah, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) total, PSBB transisi (adaptasi/pola kebiasaan baru), hingga memasuki kenormalan baru.

Wabah memaksa kita mengubah ulang dalam merencanakan, merancang, membangun, mengelola, dan mengelola kota, sebuah urbanisme baru di era kenormalan baru. Berbagai inovasi perkotaan yang diharapkan, dipromosikan, dan diterapkan berdasarkan pelajaran yang diperoleh selama wabah.

Kedua, kota harus memiliki strategi untuk mengaktifkan (warga) kota dan mampu bertahan kala wabah. Kota dituntut mampu untuk memulihkan diri setelah wabah memuncak (pandemic resistant). Kota harus mulai membangun infrastruktur kesehatan masyarakat.

Kota harus dapat mempertahankan kelangsungan hidup yang lebih luas untuk menghadapi semua kemungkinan risiko akibat wabah atau kebencanaan lainnya.

Ketiga, big data akan menjadi bahan bakar pertumbuhan kota di masa depan. Kota–kota di Indonesia sudah harus memperhitungkan aspek tekonologi dan informasi sebagai tulang punggung struktur ruang kota.

Standar kepadatan dalam ruang perkotaan harus disesuaikan dengan protokol kesehatan. Perencana kota harus mendesain ulang kota yang ‘tidak lumpuh’ akibat bencana nonalam (wabah) sebagai model kota sehat di era kenormalan baru. Transformasi budaya dan inovasi baru tata kota yang kita dapatkan setelah wabah ke kota-kota lain di Indonesia.

Kota harus menerapkan banyak terobosan inovatif layanan kesehatan di masa wabah berbasis data. Kota menginformasikan tempat rujukan rumah sakit penanganan korona, kapasitas tingkat keterisian pasien positif korona terkini di rumah sakit, konsultasi kesehatan dengan dokter, hingga panduan melakukan isolasi mandiri secara daring dan bisa diakses 24 jam.

Keempat, kota dengan cermat bisa memprediksi dan menyediakan fasilitas dan akses kesehatan yang mumpuni. Mulai tingkat klinik kesehatan, pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, apotek, hingga laboratorium penelitian dan pengembangan vaksin dan obat.

Kota dengan cepat menghitung dukungan dokter, perawat, dan tenaga medis, serta jaminan asuransi kesehatan/Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dan program kesehatan lain.

Kelima, kota kala (dan pasca) korona ialah kembali ke rumah. Sebagian besar kegiatan pendidikan dan pengajaran, kantor dan usaha, ibadah, produksi dan distribusi, layanan dari pintu ke pintu, serta komunitas sebagai basis modal sosial dan kapital.

Penyediaan teknologi internet yang mudah, murah, merata, dan cepat akan memperlancar akses pendidikan dan proses belajarmengajar. Mempercepat akses ke pasar dan perluasan lapangan kerja, serta mendorong kolaborasi, kreasi, dan inovasi baru di masyarakat.

Pembangunan kota harus memasukkan protokol kesehatan dalam pengembangan infrastruktur kesehatan masyarakat. Pelibatan ahli kesehatan menjadi penting dalam tahapan perencanaan dan perancangan kota sehat ke depan. Sebuah renungan bersama di Hari Habitat kala korona.

BERITA TERKAIT