02 October 2020, 04:10 WIB

Donna Agnesia Ajari Anak Pola Hidup Sehat


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora

PRESENTER Donna Agnesia, 41, mengajari anak-anaknya untuk menjalankan gaya hidup sehat sejak dini dengan menyiapkan bekal dari rumah. 

“Dari zaman mereka sekolah offline (sebelum pandemi), memang aku biasakan mereka bawa makanan yang sudah disiapkan di rumah ke sekolah, sebisa mungkin enggak jajan,” ujar Donna dalam Webinar Cara Cerdas Memilih Produk Pangan, Rabu (30/9).

Meski demikian, dia memaklumi bila kadang sang buah hati tergiur saat melihat temantemannya membeli jajanan. Ada kalanya mereka sembunyi-sembunyi ingin jajan atau meminta kepada pengasuh untuk membelikan jajanan tertentu.

Untuk menyiasati hal tersebut, Donna berusaha memberikan pemahaman kepada mereka. “Kita ngobrol sama anak, apa sih untungnya kalau kalian makan yang sudah disiapkan dari rumah. Kita memperhatikan higienis, gizi, nutrisi. Kalau jajanan dari luar, kita enggak tahu kebersihannya, sehat atau tidak?” ujar Donna.

Selain memastikan asupan gizi yang seimbang, imbuh Donna, berolahraga, istirahat yang cukup, dan menjaga pikiran selalu positif dan optimistis menjadi resep yang dipraktikkan Donna sekeluarga demi bisa melewati pandemi dengan jiwa dan raga sehat.

Dia bersyukur gaya hidup sehat yang diajarkan kepada anak sudah dimulai jauh sebelum dia menghabiskan 24 jam di rumah saja. Ketika Donna masih aktif bekerja di luar rumah, penerapan pola makan sehat tetap berlangsung di bawah arahannya lewat bantuan orang-orang yang membantu mengurus buah hatinya. 

“Dalam menyiapkan semua kebutuhan anak termasuk makanan dan camilan, yang beli tetap aku biar segala kebutuhan anak
tetap terpenuhi. Gizi, nutrisi, dan asupan tetap terkontrol.”


Baca label

Untuk memastikan anak mendapatkan asupan gizi terbaik dan seimbang, kata Dona, sang suami, Darius Sinathrya, 35, memperhatikan hal-hal terperinci seperti label gizi. 

Membaca dan memahami label gizi pada pangan olahan penting untuk memastikan produk yang dibeli sesuai dengan kebutuhan tubuh. “Aku belajar baca label pangan karena Darius, dia orangnya lebih detail, lebih perfeksionis,” ujar Donna. Hal pertama yang diperhatikan Donna saat membeli produk olahan biasanya ialah masa kedaluwarsa.

Namun, setelah menjadi orangtua, dia dan Darius menjadi lebih teliti demi memastikan asupan garam, gula, dan lemak dari hidangan yang disantap buah hatinya betul-betul seimbang. 

Tidak berlebihan, tapi juga tidak kekurangan sebab aktivitas anak-anaknya padat. Tak hanya sibuk di sekolah, anak-anaknya mengikuti ekstrakurikuler dan aktivitas fisik lainnya. Selama pandemi, aktivitas belanja biasanya dilakukan berdua dengan Darius. 

Saat itu, Donna akan menyerahkan urusan memeriksa label gizi kepada sang suami. “Kalau baca belakang kemasan produk pangan, banyak banget tulisannya, kecilkecil. Kalau belanja sama Darius, aku suruh dia yang baca, aku lihat bagian (tulisan) yang besar saja, mata sudah plus,” seloroh Donna.

Donna pun menyambut baik adanya terobosan baru dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) agar label gizi dibuat lebih sederhana dan mudah dimengerti. Produk minuman siap konsumsi serta mi instan dan pasta instan yang memenuhi kriteria batasan kandungan gula, garam, dan lemak yang sudah ditetapkan pun dapat mencantumkan logo ‘Pilihan Lebih Sehat’. (Ant/H-3)

BERITA TERKAIT