01 October 2020, 23:58 WIB

Pertempuran Armenia-Azerbaijan di Nagorno-Karabakh Terus Memanas


Nur Aivanni | Internasional

PASUKAN Armenia dan Azerbaijan meningkatkan serangan pada Kamis meskipun ada seruan dari para pemimpin dunia untuk mengakhiri pertempuran di wilayah Nagorno-Karabakh yang disengketakan yang telah menewaskan hampir 130 orang.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Armenia Artsrun Hovhannisyan mengatakan, pasukannya telah menangkis serangan dari Azerbaijan.

Dia mengungkapkan, pasukan Armenia menewaskan 350-360 tentara Azerbaijan, menjatuhkan tiga helikopter dan menghancurkan 15 kendaraan lapis baja serta pesawat tak berawak.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan pasukannya telah melakukan serangan artileri yang menghancurkan posisi pasukan Armenia di wilayah pendudukan.

Dia membantah klaim Yerevan bahwa salah satu helikopternya telah jatuh di Iran dan mengatakan bahwa para pejuang di pihak Armenia telah dipaksa mundur dari posisi yang sebelumnya dipegang di sepanjang garis depan.

Baca juga : Rusia Bersedia Jadi Tuan Rumah untuk Akhiri Konflik Nagorno-Karaba

Bentrokan kedua negara tersebut telah meningkatkan jumlah korban meninggal yang dikonfirmasi menjadi 129 orang termasuk warga sipil. Armenia mencatat ada 104 tentara dan delapan warga sipilnya yang tewas.

Sementara itu, Azerbaijan belum melaporkan jumlah korban militer, tetapi mengatakan 17 warga sipil tewas akibat serangan yang dilakukan Armenia.

Sementrara itu, Rusia, Amerika Serikat dan Prancis, pada Kamis (1/10), menyerukan untuk dilakukan gencatan senjata di wilayah Nagorno-Karabakh. Mereka pun meminta Armenia dan Azerbaijan agar berkomitmen untuk melakukan pembicaraan tanpa penundaan.

"Kami menyerukan penghentian segera pertempuran antara pasukan militer," kata Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh Elysee.

"Kami juga menyerukan kepada para pemimpin Armenia dan Azerbaijan agar berkomitmen tanpa penundaan untuk melanjutkan perundingan," kata para pemimpin, yang negaranya adalah ketua bersama OSCE Minsk Group yang telah mencari solusi untuk konflik tersebut sejak tahun 1990-an. (AFP/OL-7)

BERITA TERKAIT