02 October 2020, 05:30 WIB

Perguruan Tinggi Harus Atasi Gap Digital


Aiw/H-1 | Humaniora

INDONESIA harus masuk di era revolusi digital 4.0 meski masih ada kesenjangan yang cukup lebar dalam menerapkan pemahaman digital di masyarakat.

“Kita masih kekurangnan 9 juta talenta digital di tahun 2015-2030. Kesenjangan talenta digital level A bisa mencapai 1,3 juta di tahun 2020 dan bertambah mencapai 3,8 juta di 2030. Kita harus memperkecil gap ini,” tutur Dekan Fisip Universitas Sumatra Utara (USU) Muryanto Amin dalam webinar bertema Digital akademik, kemarin.

Untuk mengatasi kesenjangan itu, menurutnya, dosen perlu merekronstruksi Tri Dharma dengan melakukan pembelajar­an secara terintegrasi, berorientasi pada hasil, menerapkan kurikulum yang lebih fleksibel, dan menerapkan kerja sama antar bidang (multiple helix).

Di samping itu, perguruan tinggi juga perlu menstimulus inovasi seperti berinovasi dalam melakukan penelitian dan pembelajaran, membiasakan dosen dan mahasiswa bekerja sama dalam proses pendidikan.

Pandemi covid-19 diakui telah mengubah kebiasaan pembelajaran di perguruan tinggi. Armin Arsyad Dekan Fisip Universitas Hasanuddin (Unhas) dalam webinar itu menjelaskan kemajuan teknologi dan informasi komunikasi telah sangat membantu dunia pendidikan.

“Pembelajaran tidak lagi dilalukan dengan kaku di dalam kelas secara luring, bisa secara daring, bisa berinteraksi melalui gadget. Pembelajaran jauh lebih simpel, cepat, mudah, dan efisien,” katanya.

Dengan terjadinya perubahan sosial seperti ini, imbuhnya, dosen terbagi menjadi tiga golongan, yakni pertama yang bisa mengikuti perubahan dari analog ke digital, kedua ada yang strees tapi bisa mengikuti, dan ketiga adalah tertinggal sama sekali. “Ini banyak dialami oleh dosen-dosen senior yang menjelang pensiun,” pungkasnya. (Aiw/H-1)

BERITA TERKAIT