02 October 2020, 05:10 WIB

Pacu Jawi, Ikon Tradisi Sumatra Barat


RO/H-3 | Humaniora

Ratusan penonton berjubelan memadati arena balapan pacu jawi. Sorak-sorai penonton terdengar riuh saat satu per satu sapi dikeluarkan dari kandang ke arena balapan. Tradisi pacu jawi merupakan ajang balap sapi yang biasa diadakan masyarakat Tanah Datar, Sumatra Barat.

“Pacu jawi itu dulunya merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Yang Mahakuasa atau hasil panen yang melimpah. Namun, kini telah menjadi tradisi yang mampu menghadirkan wisatawan, baik lokal maupun asing dan meningkatkan ekonomi warga,” ungkap Pakiah, salah satu joki pacu jawi.

Pakiah bukanlah orang baru di dunia pacu jawi. Orang tuanya yang  berprofesi sebagai petani juga merupakan seorang joki pacu jawi pada masanya. Hal itulah yang membuat Pakiah tertarik menjadi joki.

“Dulu orangtua saya sering mengajak ke sawah dan mengajarkan jadi joki pacu jawi. Saya belajar di kampung sendiri kemudian ke kampung lain. Kalau ada lomba, saya diajak nonton, belum boleh ikut. Pas lomba sudah selesai dan arena sudah sepi saya disuruh latihan jadi joki pacu jawi,” kenang Pakiah.

Menjadi seorang joki pacu jawi bukan hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga bisa mengatur strategi. Joki pacu jawi juga harus mampu merawat sapi-sapi pacuan dengan baik.

“Biasanya sebelum bertan­ding kita selalu memberikan sapi doping. Doping banyak macamnya ada yang suntik, ada yang pakai perangsang tenaga sapi dan lainnya. Karena modal kecil, saya hanya pake telur dan rempah-rempah kayak jahe, bawang, dan lainya. Tujuannya menambah stamina,” jelas Sidi, salah satu joki pacuan.

Bagi para joki pacu jawi, tidak ada yang lebih membanggakan selain menang di arena pacu­an. Jika menang, nama mereka akan dikenal di seantero penggemar pacu jawi, dan sapi pemenang akan memiliki nilai jual selangit. Kisah tentang para joki pacu jawi bisa disaksikan dalam program dokumenter Melihat Indonesia yang tayang pada Minggu, 4 Oktober 2020 pukul 10.30 WIB di Metro TV. (RO/H-3)

BERITA TERKAIT