01 October 2020, 23:04 WIB

Joe Biden Lontarkan Insyaallah saat Tanggapi Debat Trump


Mediaindonesia.com | Internasional

Pada saat debat Presiden Amerika Serikat (AS) berlangsung Selasa (29/9) malam, kandidat dari Partai Demokrat Joe Biden terdengar mengucapkan ‘Insyaallah’ saat menanggapi Donald Trump.
 
Saat moderator Chris Wallace menekan Donald Trump yang tidak membayar pajak selama 10 tahun, pengusaha properti itu mengaku tidak mau membayar pajak. Namun Trump menegaskan telah membayar pajak hingga jutaan dolar.
 
Kenyataannya Trump disebut-sebut oleh The New York Times hanya membayar pajak sebesar US$750 atau Rp11 juta pada 2016-2017. Saat diminta mengenai bukti pengembalian pajak, Trump menegaskan akan memberikannya. Kemudian ini di mana Biden menimpali Trump dengan: “Kapan? Insyaallah?”.
 
Dalam bahasa sehari-hari, “Insyaallah” berfungsi sebagai respons yang tidak berkomitmen terhadap sebuah pertanyaan. Secara harfiah, istilah “Insyaallah" terdiri dari tiga kata Arab (In sha 'Allah) yang diterjemahkan menjadi "jika Tuhan menghendakinya".
 
“Ini mungkin bisa dilihat sebagai padanan Muslim yang berarti, ‘Manusia berencana, dan Allah menentukan,” sebut paparan CNN, Kamis (1/10).
 
Namun ketika kata itu keluar dari mulut Joe Biden, justru membuat kehebohan di internet. Lawan-lawan Biden langsung mencibirnya dan menyebut dia seorang Muslim. Tetapi ini dibantah oleh seorang pengacara Muslim, Wajahat Ali.
 
"Ya, Joe Biden mengatakan 'Insyaallah' saat debat. Mengatakan Insyaallah tidak membuat Anda menjadi Muslim,” tegas Wajahat Ali.
 
Jadi, ketika Biden memanggil Presiden karena alasan waktunya yang tidak jelas terkait pengembalian pajak yang telah lama dijanjikan, “Insyaallah" tampaknya tepat untuk mereka yang berpengalaman dalam budaya Muslim dan Arab. Trump tidak pernah merilis pengembalian pajaknya ke publik, sesuatu yang tidak sejalan dengan kandidat presiden dan petahana dari Partai Republik dan Demokrat sebelumnya.
 
Sementara banyak yang melihat penggunaan frasa Biden sebagai pembenaran atas pengalaman mereka sendiri. Pihak lain melihatnya sebagai penghinaan dan menggambarkan stereotip budaya tentang dunia Muslim dan Arab.
 
Bagi banyak orang di dunia Muslim dan Arab, frasa tersebut mempertahankan tujuan spiritual aslinya. Jauh dari memberikan izin untuk perilaku yang berubah-ubah. ‘Insyaallah’ merupakan pelepasan kendali atas yang tidak dapat dikendalikan. Bagi banyak orang, mengucapkan frasa tersebut merupakan latihan kerendahan hati.
 
"Sangat mengecewakan bahwa hal terbaik dari kampanye Biden yang tampaknya dapat ditawarkan kepada Muslim Amerika di tengah peningkatan kekerasan Islamofobia adalah 'insyaallah' yang diterapkan secara tidak tepat dan tidak tepat dalam perdebatan," pungkas aktivis politik Meriam Masmoudi.

Sementara Asma Khalid, reporter yang meliput kampanye dari National Public Radio mengonfirmasi kebenaran yang diucapkan oleh Biden.

Banyak orang melalui media sosial mengungkapkan keterkejutannya dengan kata yang diucapkan Biden seraya mencatat bahwa "segala sesuatu mungkin terjadi pada tahun 2020", tahun yang ditandai dengan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. (Medcom.id/aljazeera.com/OL-12)

BERITA TERKAIT