01 October 2020, 17:50 WIB

Ekspedisi HUI Dorong Geliat Pariwisata Indonesia


M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

GERAKAN Seribu Untuk Indonesia (GSUI) menggagas kegiatan ekspedisi kebangsaan Hari Untuk Indonesia (HUI) guna mendorong pemulihan sektor pariwisata yang terpukul pandemi covid-19. Kegiatan itu juga dimaksudkan memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-75 dan menyambut hari jadi Tanah Air yang ke-100.

Ekspedisi akan dilaksanakan selama 7 hari pada 5-11 Oktober melalui jalur darat melintasi Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan titik singgah di Kasepuhan Cirebon, Kasepuhan Cipta Gelar, Cilacap, Sragen, Magelang, dan Surakarta. Ekspedisi itu dilakukan bersama Asosiasi Pariwisata Nasional, Trisakti Untuk Indonesia, Milenial Cinta Budaya dan didukung oleh Brabus Indonesia serta Global CEO Indonesia.

Baca juga: Kemenparekraf Susun Langkah Percepatan Pemulihan Pariwisata

Steering Commitee HUI Muhanto Hatta menuturkan, misi yang dibawa dalam HUI ialah mendatangi, menggali potensi unggulan dan surga tersembunyi di pulau-pulau besar Tanah Air. Dalam ekspedisi itu pula akan dicari pahlawan lokal yang diantaranya bergerak di bidang pegiat seni, pegiat lingkungan, pegiat ekonomi kerakyatan, pegiat pendidikan, pegiat pariwisata lokal, pegiat sosial dan pegiat budaya.

“Kita ingin mengangkat pariwisata yang saat ini menjadi sektor paling terdampak pandemi, termasuk dengan mencari local hero, UMKM lokal yang bisa kita angkat. Ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong wisatawaan dalam negeri berwisata. Selain itu juga, kami mendorong agar masyarakat tahu bahwa di daerah ada local hero, yaitu UMKM entah dia bergerak di sektor makanan, batik atau energi baru terbarukan yang memang bisa menjadi destinasi wisata,” tutur Muhanto kepada Media Indonesia, Kamis (1/10).

Dia menambahkan, sejatinya Indonesia memiliki kekayaan luar biasa besar baik dari sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Hanya, amat disayangkan banyak masyarakat justru urung mengetahui hal itu dan seolah acuh. Padahal, pengembangan potensi dalam negeri oleh anak bangsa dapat menjadi motor penggerak kemandirian nasional.

“Kemarin, ada pembatik dari Pekalongan yang membuatkan batik berukuran 74 meter untuk Presiden Joko Widodo, tapi banyak yang tidak tahu ternyata pembatik Pekalongan ini sudah go international, dikenal oleh dunia. Tujuan kami adalah untuk mengenalkan local hero seperti ini kepada masyarakat Indonesia. Ini pasti akan memberi nilai tambah pada perekonomian daerah, apalagi sedang dalam kondisi seperti ini,” jelas Muhanto.

Melalui kegiatan HUI, kata dia, diharapkan masyarakat bisa lebih jauh mengenal kekayaan tiap daerah di Indonesia. Diharapkan pula kegiatan itu dapat memantik rasa kecintaan masyarakat akan segala potensi dan kekayaan yang dimiliki Tanah Air.

Muhanto tidak menampik di tengah pandemi ini berbagai aktivitas menjadi terbatas, akan tetapi menurutnya gerakan untuk mulai mencintai berbagai kearifan lokal harus dilakukan sesegera mungkin.

“Kita tentu mengharapkan masyarakat kita jadi aware, memang saat ini pandemi masalah utamanya. Tapi kita tidak bisa berdiam diri saja. Kita harus bergerak untuk menjaga interaksi, karena tidak mungkin selamnya kita di rumah. Wisata daerah beserta indikator di dalamnya perlu untuk didukung masyarakat. Paling tidak sekarang ini mereka bisa melihat melalui device-nya masing-masing dan mulai melenggang di tahun depan, mengunjungi tempat wisata, melihat kebudayaan lokal, dan keunggulan UMKM di tiap daerah,” kata dia.

Di kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Pariwisata Nasional Ngadimin mengungkapkan, ekspedisi ini setidaknya dapat mendorong geliat pariwisata daerah. Tidak melulu tempat dan hotel-hotel mewah, berbagai tempat yang belum banyak diketahui dan tempat penginapan kecil akan dipasarkan dari kegiatan tersebut.

Dia juga menekankan agar masyarakat lebih mencintai produk-produk yang dihasilkan di dalam negeri, utamanya yang berasal dari UMKM. Sebab, dengan begitu ekonomi kerakyatan di daerah akan bergeliat dan berdampak baik pada perekonomian secara menyeluruh.

“Bila pariwisata hidup, ekonomi juga akan hidup, kita seakrang mencari pembiananya, atau masyarakat yang bisa menggerakkan UKM di local society utk menggerakkan sektor tersebut. Selain itu, masyarakat harus mencintai produk lokal, kita harus menggerakkan apa yang kita mliki, beli barang lokal, harus bangga produk buatan Indonesia,” pungkas Ngadimin. (Mir/A-1)

BERITA TERKAIT