01 October 2020, 16:58 WIB

5000 Ahli Bencana dari 200 Negara akan Bertemu di Bali


Arnoldus Dhae | Nusantara

SEKITAR 5000 ahli bencana dari 200 negara akan urun rembuk dalam acara Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) yang akan dihelat pada 2022 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDC), di Nusa Dua Bali.

"Menjadi suatu kehormatan bagi Indonesia, terutama Bali sebagai tuan rumah kegiatan GPDRR pada 2022. Kegiatan ini dapat menjadi ajang promosi pariwisata Bali di kancah internasional,’’ungkap Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Wisnu Widjaja dalam kegiatan audiensi dengan Gubernur Provinsi Bali di Denpasar,Kamis (1/10).

Gubernur Provinsi Bali Wayan Koster menjelaskan, Bali terus berupaya menerapkan apa yang menjadi rekomendasi dari pemerintah pusat, terkait pariwisata aman bencana termasuk dalam menghadapi kondisi terkini Provinsi Bali di tengah pandemi covid-19.

"Saat ini Bali masih berada dalam kawasan zona merah. Namun kami terus memperketat peraturan penerapan protokol kesehatan kepada masyarakat,’’ jelas Koster.

Baca juga : Debat Publik di Pilkada Kabupaten Malang Tanpa Pendukung

Koster berharap dengan bentuk sinergi dari pemerintah daerah dan kedisiplinan masyarakat, Provinsi Bali dapat terus menekan potensi penularan covid-19. Sehingga Bali dapat siap dan aman dalam menyelenggarakan kegiatan GPDRR tahun 2022 mendatang.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia tengah menunggu keputusan dan kesepakatan dari hasil pengkajian yang menyeluruh, sebab banyak aspek yang harus ditinjau terkait kelayakan penyelenggaraan event berskala internasional ini.

Adapun GPDRR merupakan forum multi-pemangku kepentingan dua tahunan yang dibentuk oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meninjau kemajuan, berbagi pengetahuan dan mendiskusikan perkembangan dan tren terbaru dalam pengurangan risiko bencana. Kegiatan yang dilaksanakan pada

tahun 2022 mendatang ini diperkirakan akan dihadiri oleh 200 negara yangterdiri dari pejabat tinggi pemerintah, lembaga non pemerintah, akademisi, sektor wisata dan media. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT