01 October 2020, 16:38 WIB

Perlu Skema Stimulus untuk Perkuat Industri Baja Nasional


mediaindonesia.com | Ekonomi

SEIRING dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur, pemerintah terus berupaya membenahi dan memperkuat industri baja nasional dengan mewujudkan negara mandiri dari impor baja.

Namun yang saat ini tengah dialami hampir seluruh negara di dunia adalah minimnya permintaan atau demand akan produk baja karena dampak pandemc covid-19.  

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier mengatakan, di era covid-19 semua negara berupaya mencari cara agar permintaan di industri baja meningkat. 

“Kita lihat di Amerika, ada upaya dari industry bajanya menyurati parlemennya untuk mengeluarkan semacam infrastruktur bill yang tujuannya adalah untuk mendorong industri baja agar bergerak," jelas Taufiek dalam Webinar Infrastructure Connect Digital Series dengan tema "Strategi Memperkuat Industri Baja Nasional dalam Percepatan Pengembangan Infrastruktur", Rabu (30/9)

"Karena semua pada saat covid hampir seluruh industry (baja) ini mengalami slow down dan kemudian banyak dijumpai tenaga kerja yang mungkin dijaga, agar tidak di PHK. Ini satu upaya yang besar, jadi distruption dari supply chain secara global,” terangnya.

Taufiek menjelaskan, negara-negara yang berkonsentrasi di industri baja, menggunakan skema stimulus untuk membangkitkan industri baja nasional mereka. Dengan skema stimulus ini, diharapkan permintaan baja tumbuh sehingga semua ekosistem yang ada di industry baja ini juga ikut bergerak. 

“Pemerintah China juga sama, mengeluarkan bounce sampai sekitar 326 miliar US dolar. Jadi pemerintah pusat dan derah, untuk proyek pembangunan hampir 13 airport. Kemudian 9 railway.  Semua ditujukan untuk membangkitkan (demand baja). Dan estimasi dari proyek yang seperti itu, di China itu 21 juta ton dapat terserap di proyek-proyek tersebut,” urain Taufiek. 

Ia menambahkan, jika diliat dari peta dunia, 52 % pengguna baja itu disektor konstruksi dan bangunan. 16% di equipment atau machining, 12% di sektor otomotif, 10 persennya di  house hold, dan 3% di sektor lainnya seperti alat elektronik. Ini adalah gambaran besar mengapa infrastruktur menjadi penting untuk di dorong oleh dana pemerintah. 

Selain itu, instrumen lain yang tak kalah penting dalam memperkuat industry baja nasional menurut Taufik adalah SNI produk baja dan peningkatan TKDN. Ia menilai, secara teknik, SNI merupakan instrument yang cukup bagus untuk membendung, impor-impor produk yang dihilir. 

“Kalau bahan baku saya kira itu kan hanya di pabrik. Kalau konsepnya SNI itu kan beredar di pasar. Itulah yang menjadi fokus. Industry yang paling hilir yang menjadi perhatian kita harus SNI kan. Untuk TKDN juga sudah kita upayakan sehingga produksi itu punya TKDN di atas 40 persen, otomotis pemerintah BUMN daerah itu harus membeli produk-produk yang dihasilkan dari dalam negeri. Itu yang menjadi konsentrasi kita,” urainya lagi.

Namun yang utama Taufiek juga mengutarakan pentingnya industri baja melakukan inovasi agar industri baja nasional tetap berkelanjutan. Ia mengatakan, persepsi konsumen untuk membeli sebuah produk harus dibangun agar industry ini tetap tumbuh. 

Dalam kesempatan yang sama, Stephanus Koeswandi, Vice President PT Tata Metal Lestari, perusahaan penyedia Baja Lapis Zinc Aluminium dengan merek Nexalume dan Baja Ringan TASO, memaparkan strategi pelaku usaha dalam menjaga industri baja nasional dalam percepatan infrastruktur di masa pandemi.

Ia menjelaskan, seperti sepakbola, ada dua strategi yang dapat dilakukan pengusaha dalam kondisi ini. Pertama, strategi bertahan. Caranya dengan menjaga kesehatan dan keamanan kerja di lingkungan industri baja nasional, dan menjaga perekonomian dan memproteksi industri baja nasional dari baja impor.

Stephanus menambahkan, ada juga strategi maju ke depan. Langkah yang bisa dilakukan, menurutnya, dengan mempercepat inovasi dalam industri baja, inovasi berbasis metal secara berkesinambungan, kemudian meningkatkan standard dan yang terakhir memperkuat UMKM dan IKM khususnya untuk baja konstruksi.

Stephanus menambahkan, baja merupakan Mother of Industry, dari sebuah negara. Karenannya ia berharap dukungan untuk dapat menjaga dan meningkatkan standarisasi di industri ini. Salah satunya dengan spercepatan kebijakan wajib SNI khususnya untuk profil baja ringan guna melindungi industri baja dalam negeri dari produk impor.

"Industri ini ibaratnya sedang tidak sehat sehingga membutuhkan obat untuk jangka pendek seperti safeguard jangka menengah seperti SNI dan jangka panjang seperti kepastian energi dan lain sebagainya," kata Stephanus.

Menurutnya, SNI Bagi industri baja sangat penting, khususnya untuk konsumen akhir melihat spesifikasi yang tertera jelas dalam setiap produk, untuk menjamin keamanan bangunan. 

Menanggapi hal ini, Kepala Badan Standarisasi Nasional, Kukuh S Achmad menyampaikan, tahun ini masih ada sembilan daftar program nasional regulasi teknis 2019-2020 terkait baja untuk disahkan.

Ia menjelaskan, nantinya jika SNI untuk sembilan produk baja tersebut disahkan diharapkan dapat menjadi jawaban pelaku industri atas persoalan daya saing dan kemandirian selama ini. Pasalnya, produk impor memang perlu diatur untuk menjaga produk dalam negeri.

"SNI produk baja ini sedang dirumuskan bersama Kementerian Perindustrian, mudah-mudahan ini yang diharapkan industri," kata Kukuh dalam kesempatan yang sama. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT