01 October 2020, 16:30 WIB

Seniman Topeng Temanggung Kangen Manggung


Tosiani | Humaniora

SENYUM sumringah tergambar di wajah Nova, remaja putri warga Desa Mondoretno, Kecamatan Bulu, Temanggung, Jawa Tengah di sela sesi latihan tarian topeng ireng, di areal kebun tak jauh dari rumahnya. Tak seperti biasanya, pada latihan kali ini, ia bersama beberapa orang rekannya berhias dengan kostum lengkap seperti saat akan tampil di pentas-pentas seni.

"Ini karena kami sangat rindu ingin bisa pentas lagi. Jadi kami berdandan seolah akan pentas beneran,"ungkap Nova, Kamis (1/10).

Selama diliburkan saat berlangsung pandemik sejak Maret lalu, dirinya mengaku, amat bosan. Tidak ada aktivitas, ia juga tidak bisa pergi ke sekolah dan harus melakukan belajar dari rumah karena daerah Temanggung masih zona merah penyebaran Covid-19. Remaja lainnya juga mengalami kebosanan yang sama, mereka berharap bisa pentas lagi.

"Kami bingung tidak ada yang harus dilakukan, juga sangat bosan. Kangen ingin pentas lagi,"ujarnya.

Demi bisa pentas, sambung Erni, 16, remaja lainnya, ia bersama kelompok kesenian di desanya menawarkan diri untuk bisa pentas di Pasar Tani tiap hari Minggu Pagi. Untuk pementasan tersebut, kelompok seninya rela tidak dibayar.

"Yang penting bisa pentas. Dari make up, pakaian, semuanya, kami pakai uang sendiri karena tidak menerima bayaran,"ujar dia.

Ketua Kelompok Kesenian Desa Mondoretno, Sukriyati Suryaningsih, 53, mengatakan, pihaknya mengelola kelompok reni untuk kalangan remaja, anak-anak, dan kaum ibu sejak tahun 2012 silam. Selama pandemik tidak ada satupun yang bisa pentas. Karenanya anggota kelompok seni merasa jenuh dan rindu ingin pentas.

"Terutama anak-anak dan remaja, mereka sangat bosan. Kalau kaum ibu mungkin ada kesibukan di rumah, sehingga tidak terlalu terasa jenuh,"katanya

Sebelum pandemik, setiap sebulan sekali kelompok seninya mendapat kesempatan pentas. Baik pentas persahabatan maupun pada acara hajatan. Selama pandemik tidak bisa sekalipun pentas. Mereka juga tidak memiliki penghasilan. Biasanya tiap tampil di acara hajatan, kelompok seni menerima upah Rp2 juta.

"Untuk mengatasi kebosanan, remaja laki-laki biasanya melakukan terabas. Sedangkan remaja perempuan diajak aktif ikut senam tiap sore,"katanya. (OL-13)

Baca Juga: Waspadai La Nina, BMKG: Ada Ancaman Bencana Hidrometeorologi

BERITA TERKAIT