01 October 2020, 13:00 WIB

Kolaborasi Industri Sawit dan Pesantren Bisa Dorong Pemerataan


M Ilham Ramadhan | Ekonomi

KOLABORSI industri kelapa sawit dengan pesantren dapat menjadi modal penguatan dan pemerataan perekonomian nasional. 

Serapan tenaga kerja industri kelapa sawit yang mencapai 16,2 juta orang dan jumlah pesantren yang sekitar 29 ribu merupakan potensi besar yang dimiliki Indonesia.

Demikian disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam peluncuran Program Santripreneur Berbasis UKMK Sawit sebagai Pemberdayaan Ekonomi Daerah secara virtual, Kamis (1/10). 

“Kalau dua hal penting ini bergabung, kita berharap akan menciptakan dampak positif. Pertama tentu bagi pesantren dan santrinya, dan kedua adalah untuk industri kelapa sawit itu sendiri. Besarnya dimensi kelapa sawit di perekonomian maupun sosial masyarakat kita dapat menghadirkan pemerataan kesejahteraan dan pembangunan, maka industri kelapa sawit mampu menjadi motor penggerak pemerataan berkeadilan,” tuturnya.

Sri Mulyani mengatakan, industri kelapa sawit menyumbang devisa hingga US$21,4 miliar, setara 14% dari total penerimaan devisa Indonesia. Kontribusi yang baik itu diharapkan mampu terus bertumbuh seiring dengan kerja sama yang dibangun bersama pesantren.

Industri kelapa sawit juga merupakan industri potensial yang dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak. Sebab, dari industri sawit Indonesia bisa menghasilkan energi bio diesel yang ramah lingkungan. Oleh karenanya, hilirisasi industri sawti perlu dilakukan lantaran dapat mengungkit perekonomian Tanah Air.

“Indonesia masih punya potensi, karena hilirisasi kelapa sawit relatif belum berkembang seperti Malaysia. Policy pemerintah akan terus difokuskan untuk menciptakan nilai tambah yang makin besar dari kelapa sawit untuk bisa meningkatkan tidak saja nilai ekonomi namun juga kesempatan kerja dan kemandirian di sekror pangan dan lainnya,” jelas Sri Mulyani.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menambahkan, ragam potensi yang dimiliki industri sawit itu bisa didorong melalui pesantren. Diharapkan, para santri tidak saja mengemban ilmu keagamaan dan karakter, tapi juga mau menjadi wirausaha di industri kelapa sawit untuk mengoptimalisasi potensi tersebut.

Di kesempatan yang sama, ekonom senior sekaligus Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro menyebutkan, progam Santripreneur Berbasis UKMK Sawit merupakan inisiasi dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) dan Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi Bisnis UI yang didukung oleh Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI).

“Kegiatan ini rencananya akan diselenggarakan di 3 provinsi yang memiliki potensi pengembangan sawit yang besar yaitu Sumatera Utara, Riau dan Sumatera Selatan. Jika berjalan baik, ini akan direplikasi di wilayah lainnya sehingga bisa mendukung pemberdayaan pesantren, pengembangan ekonomi daerah,” imbuhnya. (E-1)

BERITA TERKAIT