01 October 2020, 05:00 WIB

RI Belajar dari Jepang Mitigasi Gempa Megathrust


Wan/X-11 | Humaniora

KEMENTERIAN Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional tengah menyiapkan langkah untuk mewaspadai adanya potensi tsunami 20 meter di selatan Pulau Jawa.

Menurut Menristek Bambang Brodjonegoro, pihaknya sedang mengembangkan Indonesia Tsunami Early Warning System. Dua sistem dipersiapkan untuk mendeteksi ada atau tidaknya gelombang tsunami yaitu melalui Ocean Bottom Unit (OBU) yang diletakkan di dasar laut dan sistem kabel laut dari OBU yang ditempatkan di laut dalam.

Sistem-sistem itu akan dihubungkan ke tower atau mercusuar di pantai dengan menggunakan kabel dan diteruskan ke stasiun RDS di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

“Kita harapkan buoy dan kabel itu nantinya bisa menyelamatkan lebih banyak orang apabila terjadi kejadian bencana yang tentunya sangat tidak kita harapkan, tapi sekali lagi kita harus tetap siaga,” katanya dalam webinar, kemarin.

Ia menambahkan, Indonesia harus belajar dari Jepang untuk mencegah bencana berdampak besar. Jepang berhasil memitigasi bencana dengan memberlakukan protokol yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan masyarakat saat bencana tiba.

Skenario terburuk

Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Kelompok Keahlian Geofi sika Global Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung, Sri Widiyantoro menjelaskan perihal risetnya tentang potensi gempa be sar di selatan Pulau Jawa. Riset yang menjadi perbincang an publik itu merupakan penelitian tahun lalu yang dimulai dari rasa ingin tahunya lalu dikembangkan bersama peneliti lain.

Pihaknya pun telah melakukan beberapa skenario terburuk. Salah satunya terdapat satu area di laut Selatan Jawa yang mengalami blocking oleh segmen megathrust. Skenario lain, jika segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah bersamaan, tinggi tsunami dapat mencapai maksimum 20 meter di pantai selatan Jawa Barat, 12 meter di selatan Jawa Timur, dan 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Jawa.

Pakar Geologi Gempa Bumi dan Geoteknologi LIPI, Danny Hilman menambahkan potensi gempa megathrust di Jawa tidak dapat diprediksi mengingat belum diketahui siklusnya. Tidak hanya itu, kondisi Jawa yang tidak memiliki pulau luar juga menyulitkan untuk memperkirakan kedatangan gempa. (Wan/X-11)

BERITA TERKAIT