01 October 2020, 04:22 WIB

Program Inti Plasma Bikin Sawit RI No 1


Iam/X-10 | Ekonomi

KERJA sama antara perusahaan dan petani dalam program inti plasma menjadikan industri kelapa sawit Indonesia menjadi nomor satu di dunia. Sistem kemitraan ini juga meningkatkan kesejahteraan petani dan perekonomian daerah.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi), Tungkot Sipayung, mengatakan persentase perkebunan sawit di
Indonesia tertera jelas bahwa kepemilikan rakyat dan swasta lebih besar dari kepemilikan negara.

“Inilah yang membawa industri sawit pada 2006 menjadi nomor 1 di dunia. Jadi, mulai 2006 sampai hari ini dan mungkin ke depan Indonesia menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia, yaitu terjadi karena kemitraan antara perusahaan dengan rakyat,” kata Tungkot dalam webinar Indonesia Bicara bertajuk Inti Plasma Sektor Perkebunan yang diadakan Media Indonesia, kemarin.

Dalam webinar yang dipandu Ketua Dewan Redaksi Media Group Usman Kansong itu, Tungkot mengatakan kemitraan yang dibangun telah menghasilkan lompatan besar perekonomian Indonesia untuk memajukan perekonomian di daerah-daerah. Menurut penelitian Bank Dunia,
perkebunan kelapa sawit dapat mengentaskan rakyat dari kemiskinan di Indonesia.

“Selain itu, sejarah perkebunan sawit Indonesia memang tidak bisa terlepaskan dengan kemitraan inti plasma yang dibangun sejak awal,” tegasnya.

Narasumber lainnya, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) Setiyono, mengungkapkan sesuai UU Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan, perusahaan perkebunan melakukan kemitraan yang saling menguntungkan dan saling menghargai.

“Program inti plasma sangat bagus sekali. Kita sudah merasakan kebaikan dan saya sudah merasakan manfaatnya,” kata Setiyono.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengolahan dan Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian, Dedi Junaedi, menjelaskan bahwa program inti plasma sangat baik.

“Model ini dinilai sangat bagus karena menginduk tambak inti rakyat,” tutur Dedi.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung, menilai pola dari program inti plasma ini perlu diubah menjadi pola kesejahtera an yang bisa lebih menyejahterakan petani.

Minimalkan klaim

Ketua Bidang Agraria dan Tata Ruang, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Edi Martono, menilai bahwa kemitraan dalam program inti plasma akan menimimalkan klaim atas lahan sawit.

“Saya meyakini bahwa dengan adanya kemitraan tersebut dapat menghilangkan atau meminimize terjadinya konflik-konflik, tetapi aturan-aturan harus jelas seperti masyarakat yang tidak menerobos dan lainnya,” kata Edi.

“Dari pengalaman saya, masyarakat lokal bisa ditampung atau diikutsertakan. Artinya, program ini bisa mengurangi klaim karena masyarakat turut terlibat,” tambahnya.

Menurut Direktur Eksekutif Paspi, Tungkot Sipayung, kasus yang banyak terjadi karena diklaim oleh masyarakat dengan berbagai alasan. Kasus seperti ini harus diselesaikan sesuai dengan koridor hukum. “Jika banyak yang klaim tanah leluhur atau sebagainya, silakan diajukan ke pengadilan.” (Iam/X-10)

BERITA TERKAIT