01 October 2020, 01:40 WIB

Nagorno-Karabakh Terus Memanas


MI | Internasional

ARMENIA dan Azerbaijan hingga kemarin masih menolak tekanan dunia internasional untuk mengadakan pembicaraan damai. 
Konflik kedua negara dalam memperebutkan wilayah Nagorno Karabakh itu kini berkembang menjadi perang yang lebih besar. Kepada televisi Rusia, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev dengan tegas mengesampingkan kemungkinan pembicaraan damai. 

Senada, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan mengatakan kepada televisi yang sama bahwa pembicaraan tidak bisa terjadi saat pertempuran berlanjut. Setelah diskusi tertutup, 15 anggota Dewan Keamanan PBB menyatakan keprihatinan mereka mengenai bentrokan tersebut. 

Para anggota dewan mengutuk penggunaan kekuatan senjata dan mendukung seruan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres agar kedua pihak segera menghentikan pertempuran. Menurut televisi Al Jazeera, jumlah total warga sipil yang tewas telah meningkat menjadi 11 orang, yakni 9 di Azerbaijan dan 2 di Armenia, sehingga total korban tewas menjadi 95 orang.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Armenia Artsrun Hovhannisyan mengungkapkan pasukan Azerbaijan telah melancarkan serangan besarbesaran di sektor selatan dan timur laut garis depan Karabakh.

Armenia dan Azerbaijan telah terlibat dalam sengketa wilayah sejak 1990-an ketika Karabakh, daerah kantong etnik Armenia di Azerbaijan, mendeklarasikan kemerdekaan setelah perang yang menewaskan sekitar 30 ribu orang.

Kemerdekaan NagornoKarabakh tidak diakui negara mana pun dan wilayah itu masih dianggap sebagai bagian dari Azerbaijan oleh komunitas internasional. Pertempuran Azerbaijan melawan Armenia dapat mengguncang kawasan yang lebih luas dan melibatkan negara-negara lain, termasuk Rusia dan Turki.

Rusia, yang memiliki aliansi militer dengan Armenia, menjual senjata canggih senilai miliaran dolar ke Baku dan Yerevan. Sementara itu, Armenia menuduh Turki, yang mendukung Azerbaijan, ikut campur dalam konflik tersebut. Azerbaijan pun membantah tuduhan itu, sedangkan Turki telah menyerukan pengakhiran pertempuran. (AFP/Nur/Van/X-11)
 

BERITA TERKAIT