01 October 2020, 01:15 WIB

Interupsi Warnai Debat Presiden AS


Faustinus Nua | Internasional

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump dan saingannya dari Partai Demokrat, Joe Biden, kemarin bertemu dalam debat pertama kandidat presiden.

Hujan interupsi mewarnai debat yang ditonton jutaan warga AS tersebut. Itu debat yang pertama dari tiga debat presiden yang dijadwalkan dan satu debat wakil presiden. Meski moderator Chris Wallace mencoba untuk mengontrol debat yang berlangsung di Case Western Reserve University di Cleveland itu, kedua pesaing tersebut terus melontarkan penghinaan dalam perseteruan politik.

“Maukah kamu tutup mulut?” kata Biden yang kesal setelah interupsi berulang-ulang oleh Trump hanya pada segmen pertama perdebatan soal Mahkamah Agung. Selain menyebut Trump sebagai ‘badut’ dan ‘rasialis’, Biden mengatakan Trump sebagai presiden terburuk. “Kamu presiden terburuk yang pernah dimiliki Amerika,” kata Biden. 

Trump lalu membalas, “Tidak ada yang pintar tentang Anda, Joe.” Biden mempertanyakan kepemimpinan Trump dalam penanganan pandemi virus korona. Dia mengatakan Trump gagal melindungi orang Amerika karena lebih peduli dengan soal ekonomi. 

“Dia panik atau dia melihat pasar saham,” kata Biden tentang Trump, yang telah mendorong negara-negara bagian di AS untuk membuka kembali wilayah mereka dan mengecilkan ancaman pandemi.

“Banyak orang meninggal dan lebih banyak lagi yang akan mati kecuali dia menjadi jauh lebih pintar, jauh lebih cepat,” kata Biden.

Trump keberatan dengan Biden yang menggunakan kata ‘pintar’. “Kamu lulus paling rendah atau hampir paling rendah di kelasmu. Jangan pernah menggunakan kata pintar denganku. Jangan pernah menggunakan kata itu,” balas Trump.

Trump membela pendekatannya terhadap pandemi, yang telah menewaskan lebih dari 200 ribu orang di AS dan membuat jutaan orang Amerika kehilangan pekerjaan. 

“Kami telah melakukan pekerjaan dengan baik. Namun, kukatakan padamu, Joe, kau tidak akan pernah bisa melakukan pekerjaan yang kami lakukan. Kau tidak memilikinya dalam darahmu,” kata Trump.

Trump juga membela upayanya untuk dengan cepat mengisi kursi hakim Mahkamah Agung AS dengan mengatakan pemilihan memiliki konsekuensi dan dia memiliki hak meskipun ada keberatan dari Partai Demokrat.

Sebaliknya, Biden mengatakan kursi almarhum Ruth Bader Ginsburg harus diisi setelah pemilihan 3 November, ketika sudah jelas siapa presidennya.


Jajak pendapat

Dengan lebih dari 1 juta orang Amerika yang telah memberikan suara awal dan waktu hampir habis untuk berubah pikiran atau memengaruhi sebagian kecil pemilih yang belum memutuskan, taruhan dalam debat sangat besar karena kedua kandidat Gedung Putih naik panggung lima minggu sebelum pemilu digelar 3 November.

Biden, 77, telah unggul secara konsisten atas Trump, 74, dalam jajak pendapat nasional meskipun survei menunjukkan persaingan masih sangat ketat. Beberapa jam sebelum debat, Biden juga merilis pengembalian pajak 2019 dan meminta Trump, yang mendapat kecaman karena tidak merilis laporan pengembalian pajak, untuk melakukan hal yang sama. (AFP/Nur/X-11)
 

BERITA TERKAIT