01 October 2020, 04:20 WIB

Lima Konser Hiburan Hajatan Dibubarkan


MG/JI/GL/N-1 | Nusantara

BERKACA dari kasus konser dangdut di Tegal, Jateng, yang berakhir dengan penetapan Wakil Ketua DPRD Wasmad Edi Susilo menjadi tersangka, Polres Sumenep, Jatim, membubarkan lima panggung hiburan hajatan.  

Kelima panggung hiburan yang berlangsung di empat kecamatan itu dinilai berpotensi menyebabkan kerumunan sehingga dapat memicu penularan virus korona semakin menjadi-jadi. Panggung hiburan tersebut berlangsung di Kecamatan Dungkek, Ambunten, Talango, dan Batu Putih.

Humas Polres Sumenep Ajun Komisaris Widiarti menyebut kelima panggung hiburan menyalahi protokol kesehatan (prokes) dan berpotensi mengundang kerumunan warga.

Pembubaran diawali dengan penjelasan oleh Kapolsek se­tempat kepada panitia hiburan. “Kami tidak serta-merta membubarkan panggung hiburan. Kami berikan alasan mengapa dilarang. Kalau acara hajatannya tetap kami biarkan, diminta memperhatikan protokol kesehatan,” tandas Widiarti, kemarin.

Ketidakpatuhan masyarakat terhadap prokes telah memicu banyak korban tertular virus korona, bukan saja anggota masyarakat, melainkan juga tenaga kesehatan (nakes).   

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan nakes, khususnya dokter, yang meninggal karena covid-19 di Indonesia terbilang tinggi.

“Hingga saat ini, angka kematian tenaga medis mencapai 130-an selama pandemi covid-19 berlangsung,” ujar Muhadjir. Penyebabnya, antara lain karena kelelahan menuruti panggilan jiwa untuk terus membantu sesama sehingga lupa keselamatan diri.

Sebagian lagi penyebab nakes meninggal, menurut Muhadjir, disebabkan faktor komorbid atau penyakit penyerta, termasuk kurang disiplinnya tenaga medis menggunakan alat pelindung diri (APD). “Tidak sedikit dokter menggunakan APD yang tidak standar,” ucapnya.

Secara terpisah, anggota DPRD Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menyoroti mutasi 50 nakes di tengah pandemi virus korona. Akibatnya, pelayanan kesehatan bagi masyarakat menjadi terhambat karena terjadi kekosongan nakes di setiap puskesmas. “Mutasi ini yang terburuk sepanjang sejarah di Kabuaten Sikka,” sergah anggota DPRD Sikka dari Partai PKPI, Alfridus Aeng.

“Kita menyebut nakes ini adalah garda terdepan dalam penanganan covid-19 di masa pandemi, tetapi malah dimutasikan di kantor camat menjadi pejabat struktural,” paparnya. (MG/JI/GL/N-1)

BERITA TERKAIT