01 October 2020, 00:20 WIB

Mengolah Limbah Jadi Berkah


Putri Rosmalia Oktaviani | Humaniora

ENAM tahun silam, Nur Salim Ridha dan rekan-rekannya giat mengunjungi sekolah-sekolah di seputaran Tasikmalaya dan Garut. 

Tujuan mereka ialah mengedukasi siswa mengenai kesadaran untuk memilah dan mengelola sampah dengan tepat. Mereka tergabung dalam Komunitas Rumah Sampah Berbasis Sekolah (RSBS).

Tidak hanya siswa, kegiatan itu juga kemudian meluas di kalangan warga, terutama para ibu. Menurut Ridha, untuk menangani permasalahan sampah diperlukan kerja sama dan kesadarandari setiap individu untuk melakukan langkah antisipatif guna memini malisasi dampak yang berkepanjangan.

Tak disangka, ketekunan dan konsistensi Ridha, demikian ia kerap disapa, dalam mengelola sampah, terutama plastik, tidak hanya membuat kotanya makin resik. Kegiatan tersebut kini juga telah membuka jalan rezeki bagi banyak orang di wilayah Tasikmalaya, Garut, Banjar, dan Ciamis. 

Produk-produk hasil daur ulang yang diproduksi warga binaan mereka, kini laris terjual ke berbagai kota di Indonesia. Salah satu yang menjadi ikon Komunitas RSBS ialah ecobrick atau kursi dan meja berbahan botol plastik dan sampah plastik. 

Satu set kursi dan meja ecobrick dijual dengan harga Rp1,5 juta. “Sekarang karena banyak pesanan, jadi ada perajin yang membuatnya, semakin banyak juga warga yang menyalurkan botol-botol bekas. Sampai sekarang masih berjalan,” ujar Ridha, sebagaimana ia biasa disapa, ketika dihubungi Media Indonesia, Senin (28/9).

Ia bersyukur karena berkat pengelo laan sampah itu, banyak warga yang bisa diberdayakan, mulai untuk mengumpulkan hingga pengelolaan sampah plastik tersebut.

“Jadi, sekarang kalau ada pesanan ecobrick yang membuat warga, jadi jatuhnya sudah ke pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pas pengumpulan sampah banyak yang terlibat, puluhan warga,” ujar Ridha.

Meski dibentuk secara resmi pada 2014, gerakan yang dilakukan Ridha dan anggota-anggota Komunitas RSBS sebenarnya sudah dialakukan sejak 2009. Namun, karena belum terbentuk komunitas dengan perencanaan kegiatan yang lebih matang, sosialisasi umumnya tidak berlanjut ke tahap pembinaan atau pendampingan.

“Setelah menjadi komunitas, kegiatannya lebih terencana dan lebih banyak bisa melakukan aksi pembinaan. Sekarang siapa pun yang mengundang kita akan datang memberikan edukasi hingga pelatihan pengelolaan sampah pada sekolah-sekolah,” ujarnya.

Dalam proses pembinaan, siswa dan guru di setiap sekolah akan diberi pelatihan dalam melakukan pemilahan sampah. Selanjutnya juga akan diberikan pelatihan bagaimanamengelola sampah agar tidak sepenuhnya berakhir di tempat pembuangan, dari menjadikan pupuk atau produk daur ulang lain.

“Kalau mereka mau menyalurkan hasil pemilahan kita juga membantu mereka menyalurkan sampah yang sudah dipilah pada perusahaan pengumpul sampah terdekat yang ada di sekitar sekolah mereka berada,” ujar pria kelahiran Brebes itu.

Sejak berdiri pada 2014, sudah ada lebih dari 100 sekolah yang telah mendapatkan sosialisasi dan edukasi mengenai pengelolaan sampah oleh komunitas yang punya moto ‘dari Tasik untuk Indonesia yang makin resik’ ini.

Respons sekolah terhadap edukasi yang dilakukan selama ini juga selalu positif. Meski begitu, ia mengatakan tidak mudah untuk bisa membuat sekolah konsisten menjalankan proses pengelolaan sampah yang telah disosialisasikan.

“Kadang kebijakan sekolah yang kurang mendukung. Rata-rata sekolah hanya mau kami datangi untuk sosialisasi, selanjut nya kalau untuk pembinaan gurugurunya sering sibuk dan ujungujungnya pembinaan tidak berjalan. Jadi, hanya beberapa sekolah yang masih bertahan hingga ke tahap pembinaan,” ujar Ridha.

Melihat kondisi itu, Ridha tidak patah arang. Ia terus menjalin komunikasi dengan pihak sekolah. Dengan begitu, Komunitas RSBS dapat selalu mengajak guru-guru bila mengadakan berbagai kegiatan, mulai edukasi pengelolaan sampah, pembuatan biopori, pupuk, hingga kegiatan membersihkan sampah secara massal.

“Kami targetnya ke guru-gurunya yang utama karena memang nanti mereka yang akan bisa menggiring muridmurid di sekolah agar menerapkan kesadaran untuk bijak mengelola sampah. Itu sangat tergantung pada komitmen guru-gurunya,” ujar Ridha.


Wisata sampah

Berbagai kegiatan lain yang juga dilakukan Komunitas RSBS ialah mengadakan Wisata sampah. Bekerja sama dengan komunitas lain di wilayah Tasikmalaya, mereka mengajak guru dan siswa berbagai sekolah untuk melihat langsung kondisi tempat pembuangan akhir sampah yang ada di Kota Tasikmalaya.

Dengan begitu, siswa dapat melihat langsung dampak buruk sampah pada lingkungan dan kesehatan warga di sekitarnya. Saat ini, Komunitas RSBS juga tengah menyiapkan peluncuran kegiatan Bank Sampah Lansia. 

Bekerja sama dengan Komunitas Lansia Kabupaten Ciamis, Komunitas RSBS akan memberikan pelatihan daur ulang sampah menjadi kerajinan tangan dan ecobrick. Selain menjadi lebih produktif, diharapkan para lansia juga bisa mendapatkan penghasilan dari hasil kerjanya.

“Jadi, lansia itu bisa berdaya. Dalam waktu dekat rencananya kami akan launching, sekarang masih persiapan karena masih perlu edukasi dan pelatihan lagi bagi mereka,” ujar Ridha.

Ridha mengatakan, di tengah kemajuan teknologi, ia sangat menyadari pentingnya selalu memberikan informasi mengenai kegiatankegiatan Komunitas RSBS di media sosial. Karena itu, ia sangat aktif membagi info mengenai kegiatan Komunitas RSBS di akun media sosial.

“Tujuannya agar banyak yang melihat, akhirnya tertarik dan tergerak untuk juga mendapatkan sosialisasi dan pembinaan dari kami, jadi gerakannya juga bisa lebih masif. Ecobrick yang diproduksi warga binaan juga bisa lebih banyak diketahui orang,” ujar Ridha. (M-4)

 

BERITA TERKAIT