30 September 2020, 22:45 WIB

DKI Gandeng Swasta Olah Sampah di Bantargebang


Putri Anisa Yuliani | Humaniora

DINAS Lingkungan Hidup DKI Jakarta bekolaborasi dengan PT Unilever Indonesia dan produsen semen PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) dalam mengolah sampah lama di TPST Bantargebang menjadi Sumber Energi Terbarukan.

Dalam kolaborasi ini, pihak swasta mendukung kegiatan penambangan sampah atau 'landfill mining' pada zona tidak aktif di TPST Bantargebang. Melalui kegiatan 'landfill mining', sampah khususnya sampah plastik akan diproses menjadi material yang dapat digunakan kembali sebagai bahan bakar alternatif atau 'Refuse Derived Fuel' (RDF) sebagai pengganti batu bara di industri semen.

Baca juga: Berbeda dengan Sumatra, Megathrust di Pulau Jawa Sulit Diprediksi

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih mengatakan bahwa penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) ini memperlihatkan keseriusan pihak produsen yang telah mengambil langkah proaktif dan upaya konkret untuk mendukung pengelolaan sampah.

“Dalam menangani permasalahan sampah, kolaborasi dan pembagian peran menjadi sangat penting. Pihak produsen memiliki peran yang besar untuk ikut mengatasi persoalan sampah plastik bersama pemerintah dan masyarakat, layaknya Unilever Indonesia dan PT SBI sebagai mitra kolaborasi kami dalam project ini. Semoga kerja sama ini mampu menstimulasi kolaborasi serupa di masa mendatang,” kata Andono dalam keterangan resminya, Rabu (30/9).

Director of Supply Chain PT Unilever Indonesia Rizki Raksanugraha mengungkapkan, permasalahan sampah terutama sampah plastik merupakan isu pelik yang membutuhkan perhatian dan kerja sama lintas sektor, termasuk pihak swasta.

“Unilever percaya bahwa sampah plastik memiliki tempatnya di dalam ekonomi, tetapi tidak di lingkungan. Kami juga percaya bahwa sampah plastik jika dikelola dengan baik akan bisa menjadi sumber daya yang berguna. Upaya kolaborasi ini menjadi sangat penting untuk tidak hanya menciptakan lingkungan yang bersih, namun juga memberikan manfaat secara ekonomi,” kata Rizki.

Secara global, ungkap Rizki, Unilever berkomitmen untuk paling lambat pada tahun 2025 akan mengurangi setengah dari penggunaan virgin plastic atau plastik baru dengan cara mengurangi penggunaan kemasan plastik secara absolut sebanyak 100.000 ton dan mempercepat penggunaan plastik daur ulang. Selain itu, Unilever juga terus membantu mengumpulkan (collect) dan memproses (process) lebih banyak kemasan plastik daripada yang dijualnya.

“Kolaborasi kami bersama DLH DKI Jakarta dan PT SBI merupakan perwujudan dari komitmen collect and process ini. Di tengah fakta bahwa jumlah timbulan sampah plastik nasional pada 2020 telah mencapai sekitar 10 juta ton per tahun, kami ingin mendukung terciptanya tempat pengelolaan sampah berteknologi ramah lingkungan agar timbulan sampah dapat diproses dengan baik dan akhirnya memiliki daya guna yang berkelanjutan,” lanjut Rizki.

Untuk turut mewujudkan dunia yang bersih dari sampah plastik, lanjut Rizki, Unilever Indonesia telah menerapkan berbagai strategi mulai dari hulu ke hilir rantai bisnisnya. Dari hulu, Perusahaan mengembangkan dan menerapkan desain produk dengan pendekatan mengurangi plastik (less plastic), plastik yang lebih baik (better plastic) dan tanpa plastik (no plastic). 

Dilanjutkan dengan edukasi berkelanjutan untuk membangun kesadaran dan mendorong perubahan perilaku masyarakat secara menyeluruh. Tak kalah penting, upaya mengatasi masalah sampah kemasan plastik di bagian hilir pengolahan sampah juga dilakukan bekerja sama dengan berbagai forum pemangku kepentingan. 

“Kami percaya semua pihak dalam rantai persampahan memiliki peran masing-masing untuk membantu mengatasi permasalahan sampah. Melalui semangat #MariBerbagiPeran yang diusung oleh Perusahaan, kami akan terus mengali peluang dan potensi kerja sama dengan berbagai pihak untuk bersama menuju Indonesia yang lebih bersih dan lestari,” tutup Rizki.

Direktur PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) Lilik Unggul Raharjo mengatakan SBI sebagai produsen semen menyambut baik kerja sama dengan Unilever Indonesia, sebagai pihak produsen pertama yang terlibat dalam kolaborasi ini. 

“Dengan misi sejalan untuk melestarikan lingkungan melalui pengelolaan sampah yang optimal dan terintegrasi, Unilever Indonesia akan terlibat dalam mendukung operasional proses crushing dan drying di fasilitas kami untuk turut memastikan bahwa kapasitas dan kualitasnya dapat terus ditingkatkan,” kata dia.

Kepala Unit Pengelola Sampah Terpadu (UPST) Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, pilot project untuk penambangan sampah untuk menjadi RDF di TPST Bantargebang telah dimulai sejak tahun lalu. 

"Sumber sampah yang digunakan berasal dari Zona IV yang berusia lebih dari 10 tahun,” kata Asep.

Baca juga: Persiapan TPU Rorotan Untuk Pemakaman Jenazah Covid-19

Asep menjelaskan, proses untuk mengubah sampah ini menjadi bahan bakar meliputi penggalian dan pengayakan pada fasilitas TPST Bantargebang, lalu dikirim ke lokasi pabrik PT SBI untuk dicacah (crushing) dan dikeringkan (drying) guna menghasilkan RDF yang berkualitas. 

“Project ini diperkirakan akan menghasilkan RDF sekitar 1000 ton/bulan. Di mana 80-90%nya terdiri dari sampah plastik,” ungkapnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT