01 October 2020, 08:05 WIB

Cara Lain Memaknai Nasionalisme Lewat Film


Fathurrozak | Weekend

SELAMA lintasan zaman, narasi nasionalisme dalam medium film telah mengalami perubahan. Termasuk situasinya pada industri saat ini,. Pesan nasionalisme tidak lagi ditampilkan secara gamblang. Hal itu terungkap dalam diskusi virtual bertajuk Anak Muda Bicara Nasionalisme Melalui Film dan Konten, Rabu, (30/9).

Menurut  EVP Produksi Film Negara (PFN), Erwin Arnada, film-film yang lahir pada masa setelah reformasi, agaknya kini lebih longgar dalam mengeksplorasi tema dan unsur kebangsaan dalam film. Para sineas seperti pada era pascakemerdekaan ketika film ditampilkan sebagai salah satu medium propaganda dengan ciri pesan nasionalisme yang ketat.

“Menariknya, nilai nasionalisme memang dikomunikasikan dengan cara yang berbeda. Tidak lagi menaruh simbol negara, kepahlawanan atau semboyan heroik, melainkan memasukkan unsur nasionalisme ke unsur yang bagaimana nantinya suatu film akan dikenal dan menjadi kebanggaan, baik di Indonesia maupun di internasional,” kata Erwin.

Hasil riset Saiful Mujani Reaseach & Consulting yang dirilis pada awal tahun, menyebutkan kecenderungan pasar menyukai film nasional semakin menguat. Terlebih pada kelompok usia muda (15- 22 tahun) yang mencapai persentase 67%. Sementara yang menonton film asing, 55%. Dalam angka persentase tersebut, 81% di antaranya setidaknya menonton satu film nasional, dan 51% menyaksikan setidaknya tiga film nasional di bioskop dalam setahun terakhir.

“Semua negara memiliki konsep national cinema. Atas dasar kebutuhan untuk mempresentasikan tentang kepercayaan, aksi, budaya, agama, dan filosofi hidup melalui akses yang sama, melalui budaya pop. Budaya pop menjadi medium yang masif dan mudah dicerna, dan keberlanjutan,” kata Erwin.

Namun, Erwin juga mencatat, para sineas juga mengalami keterbelahan untuk memaknai narasi nasionalisme dalam suatu film. Terlebih, perbedaan dalam pemaknaan kata nasionalisme itu sendiri. Oleh sebab itu, menurutnya kini narasi nasionalisme telah lebih bergeser menjadi unsur yang lebih subtil dalam layar.

“Dalam konteks sinema, mereka punya pendekatannya sendiri. Ada yang misalnya memasukkan simbol negara, ini kerap dilakukan oleh filmmaker Amerika. Misalnya ada bendera, perang. Ada juga yang diungkapkan dengan cara menjaga dari pengaruh bahasa asing. Ada juga yang menunjukkan nasionalisme lewat keindahan alam,” lanjut pria yang juga ikut terlibat sebagai penata skrip untuk film Sabar Ini Ujian (2020) itu. (M-4)

BERITA TERKAIT