30 September 2020, 20:30 WIB

ITB : Tsunami Setinggi 20 Meter di Jawa adalah Skenario Terburuk


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora

HASIL studi sejumlah ilmuwan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) tentang potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa sontak menjadi topik pembicaraan masyarakat selama seminggu terakhir. Di satu sisi, masyarakat jadi teredukasi, tapi di sisi lain studi itu menimbulkan kecemasan.

Salah satu peneliti studi itu yang juga Besar Kelompok Keahlian Geofisika Global Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) Sri Widiyantoro angkat bicara. Ia tidak berniat menimbulkan kegaduhan karena apa yang ditemukan olehnya berbasis ilmiah.

"Riset ini dimulai dari keingintahuan setelah ada paper dari Inggris oleh Ron Harris dan Jonathan major yang memberikan tsunami di dekat Pangandaran. Mereka memperkirakan gempa yang besar di tahun 1568 dan 1899," kata Widiyantoro dalam konferensi pers virtual Penjelasan publik Resiko Tsunami di Selatan Pulau Jawa yang digelar Kemenristek, Rabu (30/9) sore.

Akibat gempa tersebut, tuturnya, diberitakan pula bahwa Candi Prambanan dan Candi Borobudur mengalami kerusakan. Ia pun jadi penasaran dan berniat meneliti lebih lanjut. "Ketulan saat itu ITB menawarkan riset multidisplin pada 2018," imbuhnya.

Dengan bekerja sama dengan sejumlah ahli data Global Positioning System (GPS) dan ahli tsunami, studi ini dilakukan dari berbagai sisi. Hasilnya, temuan tentang seismic gap di selatan Pulau Jawa. "Seismic gap dimaksud merupakan zona tepi gempa yang memanjang di selatan Pulau Jawa, tepatnya dari Jawa Barat ke Jawa Timur," jelas Widiyantoro.

Dengan menggunakan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lokasi seismic gap itu didapat kurang dari 30 km dari posisi megathrust. Dengan bantuan teknologi, tim peneliti melakukan beberapa skenario terburuk gempa.

"Salah satunya terdapat satu area di laut Selatan Jawa yang mengalami blocking oleh segmen megathrust. Sehingga area ini bergerak tapi terkunci, kalau terkunci akan adanya akumulasi dan kalau energinya sudah besar kunciannya sudah tidak kuat, maka akan lepas, disitu terjadi gempa megathrust," katanya.

Skenario lainnya, sambung Widiyantoro, diasumsikan jika segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa (barat dan timur) pecah secara bersamaan. "Hasil pemodelan menunjukkan bahwa tinggi tsunami dapat mencapai angka maksimum 20 meter di pantai selatan Jawa Barat," terangnya.

Sementara, tsunami 12 meter terjadi di selatan Jawa Timur, dengan tinggi maksimum rata-rata 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Jawa. Jadi, kata Widiyantoro, sebenarnya riset yang sudah diterbitkan di Jurnal Nature itu mencoba memperlihatkan banyak skenario untuk mengetahui bagaimana megathrust itu terjadi. "Untuk usaha mitigasi maka ditampilkan worst case skenario atau skenario terburuknya," tegas Widiyanto. (H-2)

BERITA TERKAIT