30 September 2020, 17:55 WIB

Mahasiswa UB Ciptakan Teknologi Penguat Ketahanan Pangan


Bagus Suryo | Humaniora

MAHASISWA Universitas Brawijaya (UB), Kota Malang, Jawa Timur, membuat terobosan inovasi teknologi penguat ketahanan pangan. Inovasi itu alat pemerah susu otomatis dan mesin penyortir jagung berbasis digital.

Kedua teknologi canggih itu solusi bagi peternak dan petani yang masih menggunakan alat konvensional.

Dalam rilis yang disampaikan Humas Fakultas Teknik UB Miko Irfanti, Rabu (30/9), alat pemerah susu otomatis menggunakan teknologi plasma nontermal buatan mahasiswa Teknik Elektro. Alat itu menggabungkan teknologi pemerah dan sterilisasi. Tujuannya agar susu tidak terkontaminasi lingkungan.

Teknologi dirancang oleh Muhamad Ibnu Fajar dan Mahasiswa Kedokteran Hewan yaitu Elfahra Casanza Amalda dan M. Ali Akram Syah. Pembimbingnya ialah Ir. Nurussaadah, MT.

Teknologi yang diberi nama MOOSPIN itu didesain khusus dengan mengintegrasikan Internet of Things (IoT). Keunggulannya lebih memudahkan dalam memantau dan mengontrol jarak jauh.

"Dengan IoT, pengguna dapat dengan mudah memantau melalui perangkat komputer atau smartphone," tegas Muhamad Ibnu Fajar.

Pemerah susu otomatis ini juga terhubung dengan teknologi sterilisasi menggunakan plasma dingin bersuhu ruangan yang dialirkan menuju tangki penyimpanan susu.

Selain itu, Chandra, Nisrina Rania Habibah, Angela Sembiring dan Revy Dhea Septyaningrum membuat mesin penyortir jagung. Mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian UB itu membuat inovasi mesin sortasi biji jagung untuk mendapatkan benih jagung berkualitas.

Teknologi itu memisahkan biji jagung berkualitas baik dan buruk dalam wadah berbeda. Pemisahan biji saat proses perontokan menggunakan metode mengidentifikasi objek-objek pada sebuah gambar atau metode Convolutional Neural Network (CNN).Â

Tiap biji dipindai oleh kamera, datanya diproses di CNN yang sudah diprogram. Lalu pipilan jagung kualitas baik dan buruk yang terlepas dari tongkolnya secara otomatis tersortir, dan masuk ke wadah terpisah. Cara kerja mesin penyortir ini bisa dikendalikan jarak jauh dan waktu yang bisa diatur kapan pun. Sebab, mesin itu berbasis teknologi IoT. Petani juga bisa memonitoring selam proses sortasi biji jagung.

"Jadi kalau ada IoT ini, pengguna dapat memantau dan mengontrol mesin penyortir jagung ini dari jarak jauh melalui ponsel atau perangkat lain yang terhubung dengan internet," terang Ketua Tim Peneliti Nisrina Rania Habibah. (OL-13)

Baca Juga: Teknologi Perikanan Karya Mahasiswa UGM Membanggakan

BERITA TERKAIT