30 September 2020, 14:14 WIB

Isu PKI, Mainan Politik Kelompok yang tak Kreatif


Thomas Harming Suwarta | Politik dan Hukum

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Isu PKI kerap muncul di Indonesia. Pada 2017, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis isu kebangkitan PKI merupakan hasil penggalangan opini dari kekuatan politik tertentu. Dari survei, sebanyak 86,8% responden tidak memercayai kebangkitan PKI, hanya 12,6% berpendapat sebaliknya, dan sisanya menjawab tidak tahu. Pada 2018, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkapkan hasil survei yang menyatakan 42,8% publik di 9 provinsi termakan isu Kebangkitan PKI yang beredar di medsos. Presiden Joko Widodo dalam Pilpres 2014 dan 2019 juga menjadi korban terpaan isu PKI di medsos. Akan tetapi, isu yang muncul menjelang rezim pemilihan itu ternyata tidak laku bagi publik. Seperti terungkap dalam survei SMRC pada 2019, sebanyak 73% responden menyatakan tidak setuju. Hanya 6% yang menyatakan setuju dan 22% menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan kerap dikaitkan dengan isu kemunculan PKI. Bahkan pada 24 Juni 2020, sebuah aksi warga diwarnai pembakaran bendera PDIP yang disertai narasi PKI. Untuk membahas mengenai kemunculan isu PKI sebagai isu tahunan, wartawan Media Indonesia Akhmad Mustain (@must_st)akan mewawancarai Ketua PP Pagar Nusa yang juga politisi PDIP, Nabil Haroen (@nabilharoen), dalam program Journalist on Duty di akun Instagram @mediaindonesia pada Senin (28/9/2020) mulai pukul 20.00 WIB.

A post shared by Media Indonesia (@mediaindonesia) on

MUNCULNYA isu Partai Komunis Indonesia (PKI) setiap kali perhelatan politik termasuk menjelang peringatan Gerakan 30 September (G30S) dianggap sengaja dimunculkan untuk melakukan serangan politik semata terutama terhadap kelompok atau partai yang kerap diasosiasikan dengan PKI.

Namun demikian, masyarakat sudah cerdas dan tidak melihat isu ini mampu membakar amarah publik sehingga pihak-pihak yang memainkan isu ini dianggap kelompok yang tidak kreatif dan kehabisan akal.

Baca juga: Ketua DPR: Jangan Ada Pihak Dirugikan Akibat RUU Ciptaker

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum DPP Pagar Nusa (Persatuan Pencak Silat Nahdlatul Ulama), Muhammad Nabil Haroen, saat berbincang dengan Jurnalis Media Indonesia, Ahmad Mustain dalam program Journalist on Duty yang disiarkan melalui Intagram Live Media Indonesia, Senin (28/9) malam.

“Bahwa ada isu kebangkitan PKI di masyarakat sebenarnya kami ini tidak peduli, baik di PDIP maupun NU karena ini semacam dagangan saja yang sudah tidak laku tetapi terus difabrikasi. Sehingga kami anggap ini isu murahan saja dari kelompok yang sudah kehabisan akal, tidak cerdas dan tidak kreatif menciptakan isu,” kata Nabil yang adalah juga politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut.

Ditegaskan dia, di internal PDIP sendiri selama ini selalu diserang dengan isu PKI, corak sebagai partai nasionalis dan juga relijius sudah sangat jelas kelihatan dan tidak benar seakan-akan PDIP punya semangat komunisme seperti yang diisukan. 

“Saya sendiri sebagai NU dan didukung oleh Guru-Guru untuk masuk PDIP dan memang saat saya di dalam tidak ada itu seperti yang diisukan. Kami jelas nasionalis dan relijius juga. Kalau saja benar ada PKI maka tentu guru-guru saya juga tidak mengijinkan,” lanjut Nabil.

Ia menambahkan, bahwa isu PKI biasanya menyerang partai yang memiliki akar kuat di masyarakat. 

“Karena kami tahu ini jadi kami anggap biasa saja. Sama dengan NU karena punya basis kuat di masyarakat tapi diserang dengan isu-isu receh. Beruntungnya masyarakat kita sekarang sudah cerdas sehingga isu-isu ini sudah tidak laku lagi,” pungkas Nabil.

 

(OL-6)

BERITA TERKAIT