30 September 2020, 08:27 WIB

Satgas Pastikan Rapid Test Antigen Bisa Digunakan di Indonesia


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

SATGAS Penanganan Covid-19 menilai Indonesia bisa menggunakan rapid test antigen sesuai rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO). Rapid test itu dijelaskan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito bisa mengeluarkan hasil dalam beberapa menit.

"Tentunya alat ini bisa digunakan di Indonesia sesuai yang direkomendasikan WHO dan bisa menggantikan rapid test antibody, dan fungsi screening menggunakan rapid test tersebut menjadi lebih efektif dan tidak menjadi beban untuk RT PCR sebagai standar penegakan diagnosa," kata Wiku menanggapi pertanyaan media dalam jumpa pers yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (29/9).

Selain itu, Satgas Penanganan Covid-19 tengah mengkaji sasaran prioritas vaksin yang disesuaikan dengan kelompok risiko penularan virus covid-19. Termasuk elemen-elemen yang diperlukan dalam vaksinasi itu mulai dari suplai, pembiayaan, serta mekanisme infrastruktur yang perlu disiapkan.

Baca juga: Hati Gembira Kunci tidak Lelah Rawat Pasien

Wiku meminta masyarakat bersabar menunggu pemerintah mematangkan rencana vaksinasi untuk masyarakat. Ia memastikan pemerintah akan menyampaikan kepada masyarakat sebelum pelaksanaannya.

"Nanti, setelah rencana matang dan jelas, akan kami sampaikan kepada masyarakat rencana vaksinasi itu lebih detail. Dan tentunya itu disesuaikan dengan ketersediaan vaksin yang ada untuk melindungi seluruh masyarakat Indonesia," jelas Wiku menjawab pertanyaan media.

Wiku juga menyayangkan adanya persepsi di masyarakat yang menyatakan kebal terhadap covid-19. Ia kembali menekankan tidak ada masyarakat yang kebal terhadap covid-19. Dan virus ini tidak mengenal strata sosial ataupun jabatan seseorang.

"Jangan sekali-kali kita berpikir karena rajin berolahraga atau berdiam diri di rumah, kita bisa kebal. Karena tertular itu bisa mudah terjadi dari siapa pun yang kita temui," kata Wiku.

Untuk itu, pemerintah, katanya, mengedepankan perilaku 3M, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Untuk masyarakat yang sudah paham agar menyadarkan orang lainnya yang belum sadar sepenuhnya penularan virus covid-19.

Dengan tingginya tingkat kesadaran masyarakat, Indonesia bisa menjadi kekuatan besar untuk melawan virus covid-19. Begitu juga antarnegara melakukan hal yang sama untuk melindungi secara lokal, nasional dan global.

"Sampai sekarang, kampanye 3M ini dibantu rekan-rekan relawan dari banyak tempat. Kami juga berkerja keras agar relawan bisa berkampanye menggunakan pendekatan sosial budaya sesuai keadaan masing-masing wilayah," sebutnya.

Untuk itu, Wiku meminta masyarakat agar memiliki tanggung jawab yang tinggi dan kolektif untuk mematuhi protokol kesehatan. Karena untuk menekan angka kematian pasien Covid-19, dimulai dari menekan angka penularan.

"Semakin kita menghindari penularan terhadap kelompok rentan yaitu usia lanjut dan penderita komorbid, maka potensi menurunkan angka kematian sangat besar," pungkas Wiku. (OL-1)

BERITA TERKAIT