30 September 2020, 08:21 WIB

Anderson Minta Ada Batas Poin di Set Kelima Prancis Terbuka


Basuki Eka Purnama | Olahraga

DUA kali finalis Grand Slam Kevin Anderson, Selasa (29/9), meminta agar penyelenggara Prancis Terbuka memberlakukan tie break di set kelima agar sama dengan tiga turnamen Grand Slam lainnya.

Wimbledon dan Australia Terbuka telah merevisi aturan set pamungkas mereka berkat tuntutan dari pemain. Hal itu mengikuti aturan yang telah diberlakukan di Amerika Serikat (AS) terbuka sejak 1970-an.

Roland Garros menjadi satu-satunya turnamen Grand Slam yang mengharuskan pemain meraih kemenangan dengan selisih dua poin di set pamungkas.

Baca juga: Mladenovic Minta Ada VAR di Tenis

"Saya rasa memberlakukan sesuatu untuk membatasi laga di set kelima adalah hal yang bagus," ujar Anderson yang kekalahan 26-24 dari John Isner di set kelima semifinal Wimbledon 2018 menyebabkan All England Club mengadopsi tie break saat laga set kelima mencapai skor 12-12.

Adapun di Australia Terbuka, tie break diberlakukan saat kedudukan 6-6 di set pamungkas.

"Jika saya yang menentukan, saya rasa harus ada pembatasan skor. Saya tahu setiap Grand Slam berbeda," ungkap petenis Afrika Selatan itu.

"Saya akan meminta Prancis Terbuka untuk memberlakukan pembatasan. Bisa seperti Wimbledon, 12-12. Kalau saya bisa memilih, lebih baik 6-6," lanjut runner-up AS Terbuka 2017 dan Wimbledon 2018 itu.

Pernyataan Anderson itu diungkapkan sehari setelah berlangsungnya laga terlama kedua sepanjang sejarah Prancis Terbuka ketika Lorenzo Giustino mengalahkan Corentin Moutet dalam laga yang berlangsung selama 6 jam dan 5 menit.

Giustino menang 18-16 di set pamungkas dalam laga yang hanya terpaut 28 menit dari rekor pertandingan antara Fabrice Santoro dan Arnaud Clement pada 2004. (AFP/OL-1)

 

BERITA TERKAIT