30 September 2020, 05:55 WIB

Orangtua Aktor Utama Kekerasan pada Anak


(Aiw/H-1 ) | Humaniora

KEKERASAN pada anak yang dilakukan orangtuanya sendiri dengan alasan untuk mendidik dan mendisiplinkan anak, tidak bisa dibenarkan dan harus segera diluruskan.

Asisten Deputi Bidang Partisipasi Lembaga Profesi dan Dunia Usaha Kementerian Pendayagunaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Sri Prihantini L Wijayanti membenarkan kecenderungan tersebut.

“Sekitar 70% pelaku kekerasan terhadap anak ialah orangtua mereka sendiri dengan alasan memberi pendidikan dan disiplin, kondisi ini perlu diluruskan,” ujarnya dalam diskusi Perlindungan Anak dari Kekerasan dalam Rumah Tangga, kemarin.

Berdasarkan data prevalensi kekerasan terhadap anak pada 2018, sebanyak 61,7% anak laki-laki dan 62% anak perempuan mengalami kekerasan.

Sebagai anggota keluarga dan anggota masyarakat, menurut Sri, orangtua seharusnya menyiapkan anak seutuhnya untuk hidup di tengah masyarakat dengan semangat perdamaian, kehormatan, dan kebebasan.

Pada sisi lain, ragam kekerasan yang dialami anak juga bervariasi. Menurut Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Meita Dhamayanti, corporal punishment atau hukuman fisik yang terjadi pada anak bisa bermacam-macam mulai yang ringan, seperti menarik telinga/menjewer dan mencubit.

Hukuman sedang, antara lain menampar, memukul pantat, dan menendang, hingga hukuman berat, seperti membakar dengan puntung rokok dan memukul dengan rotan.

Berdasarkan survei yang dilakukan di Jawa Barat selama periode Oktober-Desember 2016 terhadap 4.000 siswa sekolah, sebanyak 70,2% anak mengaku pernah dicubit dan 57,6% pernah dijewer.

“Mungkin karena budaya mencubit menjewer dianggap hal yang tidak terlalu menyakitkan, padahal tidak demikian,” tuturnya.Lebih lanjut, Meita mengatakan berdasarkan survei Yougov Omnibus pada 2019 terhadap 1.231 orangtua, 32% responden beranggapan hukuman fisik harus diterapkan sebagai akibat dari pelanggaran hukum, 32% beranggapan sebaliknya, dan sisanya ragu-ragu.

Beberapa faktor yang menyebabkan orangtua melakukan hukuman fisik/kekerasan pada anak, antara lain karena kurang pengetahuan tentang parenting, ada riwayat hukuman fisik, dan riwayat paparan terhadap kekerasan rumah tangga.

Meita menjelaskan, perilaku kekerasan/hukuman fi sik pada anak bisa berdampak pada fisik berupa cedera hingga kematian dan psikologis berupa gangguan mental, kognitif yang meliputi penurunan performa akademis, kosakata yang lebih sedikit, hingga motivasi belajar rendah, serta meningkatnya agresi dan perilaku antisosial. (Aiw/H-1

BERITA TERKAIT