30 September 2020, 06:15 WIB

Model Bisnis Bank Jadi Penentu


DESPIAN NURHIDAYAT | Ekonomi

KEBERLANGSUNGAN industri perbankan ke depan ditentukan model bisnis (business model) yang dipilih. Perbankan memang harus
mengembangkan digitalisasi demi memenuhi kebutuhan nasabah.

Meski demikian, digital banking yang dikembangkan tidak melulu untuk memenuhi kebutuhan transaksi nasabah sebab bank tetap harus memiliki
sumber pendapatan untuk membiayai operasionalnya. Itu tidak bisa ditutupi dengan hanya mengandalkan dari pendapatan fee transaksi semata.

“Yang paling penting di sini ialah business model dari challenger bank. Kalau hanya mengandalkan payment, yakin tidak akan hidup,” ungkap Direktur
Utama PT Bank Central Asia Tbk (Bank BCA) Jahja Setiaatmadja dalam webinar di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, industri perbankan perlu berani memiliki channel new income lainnya agar dapat bertahan dan berkembang pesat ke depannya.

“Harus ada other things yang bisa menghasilkan income. Ya mau tidak mau harus masuk ke perkreditan,” ujarnya.

Namun, pertanyaannya selanjutnya ialah kredit seperti apa yang akan disalurkan melalui jalur digital itu. “Apakah database kita cukup.

Apakah dari social media saja, data yang kita ambil itu bisa merefleksikan calon debitur kita. Berapa besar yang akan kita berikan. Dan tentunya
bunganya juga tidak boleh seperti bunga lintah darat yang mencekik leher. Dilema semacam inilah yang memang berat dan susah sekali untuk
mengembangkan digital bank,” tandas Jahja.

Lepas dari tantangan yang harus dilakui, digitalisasi harus terus dilakukan karena generasi milenial memiliki kebutuhan yang unik dan berbeda dari
generasi yang lebih senior.


Terus didorong


Bank Indonesia (BI) sejak Mei 2019 mendorong open banking sebagai bagian blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025. Melalui open banking atau
digitalisasi perbankan itu, layanan bank bisa disambungkan dengan platform digital lain, di antaranya perusahaan teknologi keuangan (fintech) hingga perusahaan perdagangan daring atau ecommerce melalui Application Programming Interface (API).

BI terus mendorong perbankan merealisasikan digitalisasi layanan perbankan kepada nasabah secara terbuka agar bisnisnya tidak ketinggalan
karena kini menjadi kebutuhan pada masa pandemi covid-19.

Dalam kaitan itu juga, BI siap mengimplementasikan penerapan fast payment tahap pertama sehingga transaksi akan lebih cepat dan menggantikan
Sistem Kliring Nasional BI (SKNBI) mulai tahun depan.

“Dalam beberapa detik transaksinya akan selesai,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam diskusi daring. Menurut dia, BI Fast Payment itu dilakukan secara digital yang diakses 24 jam tujuh hari secara realtime.

Dia menjelaskan BI Fast Payment itu akan memfasilitasi misalnya transaksi ritel menggunakan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) yang
terkoneksi dengan layanan open banking atau teknologi keuangan (fi ntech) terkoneksi melalui API.

Di sisi lain, lanjut Perry, BI juga tengah membangun penerapan QRIS lintas negara seperti dengan Malaysia dan Thailand serta menjajaki dengan
Jepang menggunakan satu konsep yang penyelesaiannya menggunakan mata uang negara masing-masing.

Misalnya antara rupiah dan yen, rupiah dengan ringgit, atau rupiah dengan baht. (Ant/E-1)

BERITA TERKAIT