30 September 2020, 06:15 WIB

Bank BJB Bantu Dunia Usaha dan Individu Terus Priduktif


Gana Buana | Ekonomi

BANK bjb menjadi salah satu bank pembangunan daerah (BPD) yang mendapat alokasi penempatan dana pemerintah dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN) dengan total Rp30 triliun. Dari jumlah tersebut yang ditempatkan di bank bjb senilai Rp2,5 triliun.

Direktur Utama bjb Yuddy Renaldi menjelaskan dana PEN di bank yang dipimpinnya disalurkan untuk membantu masyarakat dan para pelaku usaha terdampak covid-19, melalui pinjaman yang diberikan kepada sektor produktif dan padat karya. “Prioritasnya tentu saja UMKM selain juga segmen komersial dan korporasi untuk menstimulasi kegiatan perekonomian di daerah (Jawa Barat),” kata Yuddy kepada Media Indonesia, Senin (28/9/2020).

Ia mengakui dengan adanya penempatan dana pemerintah melalui program PEN memudahkan pihaknya menekan biaya perbankan karena dana yang ditempatkan berbiaya murah.

Ia pun menilai dukungan dana PEN memudahkan perbankan melakukan relaksasi maupun restrukturasi pinjaman dunia usaha. “Peran perbankan tentunya adalah berusaha seoptimal mungkin memanfaatkan programprogram tersebut bagi debitur yang membutuhkan,” tuturnya.

Ia mengutarakan pandemi covid-19 sangat berdampak pada dunia usaha. Yuddy berpendapat upaya pemerintah memprioritaskan UMKM adalah sangat tepat karena sektor ini memiliki kemampuan lebih sebagai pendorong pemulihan ekonomi nasional.

Untuk mendorong pergerakan usaha UMKM, ia mengatakan, bank bjb melakukan pendampingan untuk membantu mereka agar bisa melalui masa sulit seperti saat ini. Program pendampingan yang dilakukan bank milik pemerintah daerah Jawa Barat ini dilakukan melalui program bjb PESAT (Pengembangan Ekonomi Masyarakat Terpadu).

“Pembinaan tersebut diberikan agar pelaku UMKM dapat beradaptasi dengan situasi ekonomi saat ini, antara lain melalui perbaikan teknis produksi ataupun optimalisasi penjualan secara online. Selanjutnya, meningkatkan kompetensi dan kapasitas usaha mereka agar setelah pandemi ini usai pelaku UMKM tersebut dapat naik kelas dan memperluas daerah pemasarannya,” katanya.

Ia menjelaskan, UMKM yang mendapat fasilitas pinjaman dari bjb sebagian besar bergerak di bidang perdagangan. Dana yang disalurkan untuk bidang tersebut sekitar 8,2% dari dana PEN.

Menurut Yuddy, pelayanan bank bjb yang diberikan kepada UMKM terdiri atas dua aspek, yaitu pembinaan dan pembiayaan. Untuk pembinaan adalah dalam bentuk program bjb PESAT dengan tujuan peningkatan kapasitas usaha serta membantu adaptasi UMKM dengan perkembangan dunia usaha, antara lain melalui pelatihan penjualan secara online.

Pembinaan lainnya antara lain melalui pelatihan perbaikan teknis produksi ataupun optimalisasi penjualan secara online.

Selanjutnya, dengan meningkatkan kompetensi dan kapasitas usaha mereka diharapan setelah pandemi ini usai, pelaku UMKM dapat naik kelas dan memperluas daerah pemasaran mereka.

Dari pendampingan ini, seluruh pelaku usaha diharapkan berhasil survive dalam jangka panjang. Pendampingan diberikan disebabkan oleh faktor yang mempengaruhi seperti untuk meningkatkan keahlian pengelolaan keuangan, kualitas SDM, kualitas produk dan lainnya. Hal tersebut akan terus dievaluasi dan menjadi pembelajaran dalam setiap pendampingan debitur.

Selain itu, terang Yuddy, pihaknya juga bekerja sama dengan Pemprov Jawa Barat mengeluarkan produk bjb Mesra (Masyarakat Ekonomi Sejahtera). Produk tersebut juga berkolaborasi dengan rumah ibadah untuk memberi rekomendasi kepada kelompok dengan anggota sebanyak 10 orang yang dinilai layak untuk mendapat pinjaman senilai maksimal Rp5 juta per individu. “Program ini juga untuk mendorong pemulihan ekonomi, program ini diharapkan dapat menciptakan perluasan akses permodalan terhadap seluruh masyarakat di berbagai daerah di Jawa Barat.”

Yuddy mengaku, di tengah pandemi ini kinerja bjb hingga kuartal II dengan kualitas kredit dapat terkelola dengan baik. Rasio NPL bjb berada pada level 1,60% atau lebih baik dibandingkan rasio NPL industri perbankan naional, yakni sebesar 3,11%.

Bahkan rasio ini lebih baik jika dibandingkan dengan NPL triwulan sebelumnya yang berada pada posisi 1,65%.

Tren suku bunga acuan yang terjadi memberik dampak positif bagi bank bjb dalam mengendalikan biaya sehingga dapat membantu pertumbuhan net interest income. “Secara konsolidasi, bank bjb mencatatkan kinerja yang baik dengan laba bersih setelah pajak yang diraih sampai dengan triwulan kedua tahun 2020 ini mencapai Rp808 miliar,” lanjut dia.

Selain itu, ucap Yuddy, pada triwulan kedua 2020 kredit UMKM tumbuh 5% secara year on year, dengan adanya relaksasi terhadap debitur terdampak pandemi serta penagihan yang efektif, NPL pada segmen UMKM pun dapat ditekan menjadi 2.5%. (Gan/S1-25)

 

 

BERITA TERKAIT