30 September 2020, 03:30 WIB

Titik Awal Baru, Perjalanan Baru


Xiao Qian Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia | Opini

REPUBLIK Rakyat Tiongkok pada 1 Oktober 2020 merayakan hari jadinya yang ke-71. Dalam kurun 71 tahun ini, rakyat Tiongkok dari semua etnik di bawah kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok (PKT), senantiasa gigih berjuang mengatasi segala rintangan dan berhasil meraih prestasi gemilang.

Kekuatan nasional Tiongkok secara keseluruhan telah meningkat drastis, sedangkan standardisasi hidup rakyat Tiongkok juga mengalami perbaikan signifi kan. Posisi Tiongkok di dunia internasional pun telah mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah.

Tiongkok telah mewujudkan sebuah lompatan historis dari negara yang tertutup dan terbelakang menjadi terbuka dan progresif; dari kekurang an sandang pangan menjadi cukup sejahtera; dari miskin dan lemah menjadi makmur perkasa.

Tahun 2020 tentunya akan menoreh kan jejak mendalam pada sejarah umat manusia. Ini juga merupakan tahun yang teramat istimewa dalam sejarah Republik Rakyat Tiongkok. Ini adalah tahun ketika Tiongkok meraih keberhasilan dalam strategi akbar mengatasi pandemi di seluruh negeri.

Merebaknya wabah covid-19 adalah sebuah kejadian luar biasa di bidang kesehatan publik dengan penyebaran yang paling cepat, jangkauan penularan yang paling luas, dan penanganan yang paling sulit sepanjang Republik Rakyat Tiongkok. Presiden Xi Jinping memberikan komando secara langsung untuk menghadapi pandemi.

Dengan menjadikan kesehatan dan keselamatan segenap rakyat sebagai prioritas utama, partai dan pemerintah Tiongkok berani mengambil langkah tegas dan tidak biasa, hingga berhasil mengendalikan wabah ini dalam waktu singkat.

Langkah-langkah itu antara lain; sigap mengambil kebijakan penting terkait penyelarasan antara penanganan wabah dengan perkembangan ekonomi dan sosial; mengambil kebijakan tepat dalam pemulihan aktivitas perekonomian; memperkuat kebijakan makro yang responsif; serta menjalankan program ‘enam prioritas’ dan menjamin stabili tas pada enam bidang. Berkat semua langkah ini, Tiongkok berhasil menjadi kekuatan ekonomi besar pertama di dunia yang telah kembali menikmati pertumbuhan positif sejak merebaknya pandemi.

Ini adalah tahun ketika Tiong kok berhasil membangun masyarakat yang cukup sejahtera secara menyeluruh. Berkat perjuangan dari generasi ke generasi, Tiongkok telah mewujudkan impian seratus tahun untuk menciptakan sebuah masyarakat cukup sejahtera. Pada 2019, PDB total Tiongkok mencapai 99,1 triliun yuan RMB dan PDB per kapita sebesar US$10.276, menempatkan Tiongkok pada barisan terdepan negara-negara berpenghasilan menengah.

Jumlah warga Tiongkok dengan penghasilan rumah tangga tahunan pada kisaran 100.000 yuan hingga 500.000 yuan telah menembus 400 juta jiwa. Hal itu menjadikan Tiongkok sebagai negara dengan masyarakat kelas menengah yang terbesar di seluruh dunia. Koefi sien Engel di seluruh Tiongkok juga telah turun menjadi 28,4%.

Selain itu, Tiongkok telah berhasil menjalankan program wajib belajar sembilan tahun yang menjangkau seluruh negeri, juga telah membentuk sistem jaminan sosial yang melindungi segenap warga kota dan desa. Angka harapan hidup rata-rata warga Tiong kok saat ini telah mencapai 76,7 tahun.

Ini adalah tahun ketika Tiong kok meraih kemenangan mutlak melawan kemiskinan. Sejak Kongres Nasional ke-18 PKT, Tiongkok telah menjadikan program pengentasan kemiskinan sebagai prioritas strategi pembangunan. Hasilnya, jumlah warga miskin telah menurun dari 98,99 juta pada akhir 2012 menjadi 5,51 juta pada akhir 2019, dan insidensi kemiskin an juga menurun dari 10,2% menjadi 0,6%.

Selama tujuh tahun berturutturut, Tiongkok setiap tahunnya berhasil me ngentaskan lebih dari 10 juta warga miskin, setara dengan jumlah penduduk sebuah negara Eropa berskala sedang. Dengan menyelesaikan pengentasan seluruh warga miskin pada tahun ini, Tiong kok akan mereali sasikan Agenda 2030 PBB mengenai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) sepuluh tahun lebih cepat dari yang dijadwalkan. Ini bukan saja merupakan prestasi terbaik sepanjang sejarah pengentasan kemiskinan, tetapi juga merupakan sumbangsih kebijaksanaan Tiongkok dan gagasan Tiongkok bagi perjuangan pengentasan kemiskinan di seluruh dunia.

Ini adalah tahun ketika Tiongkok aktif membentuk komunitas masa depan bersama bagi umat manusia. Dalam menghadapi pandemi covid-19, Tiongkok mengumumkan pemberian dua paket bantuan pendanaan kepada WHO senilai US$50 juta, pengirim an 34 tim medis ke 32 negara, pengiriman 283 paket bantuan material medis ke 150 negara dan empat organisasi internasional, serta penyediaan dan penyaluran material medis ke lebih dari 200 negara dan daerah.

Dalam menghadapi tekanan kemerosotan perekonomian dunia, Tiongkok aktif memperkuat kerja sama ekonomi internasional dan menggencarkan inisiatif belt and road untuk mendorong pemulihan global. Tahun ini bertepatan dengan 75 tahun berdirinya PBB, sekaligus 75 tahun kemenangan perang rakyat Tiongkok melawan agresi Jepang dan perang warga dunia melawan fasisme.

Tiongkok memperjuangkan visi tata kelola dunia yang berlan daskan prinsip perundingan bersama, kontribusi bersama, dan manfaat bersama. Tiongkok juga membela sistem internasional dan tatanan dunia yang berpusat pada PBB sebagai inti utamanya. Tiongkok mendorong penyempurnaan tata kelola dunia, mengawal kesetaraan dan keadilan global, serta mendorong terbentuknya komunitas masa depan bersama bagi umat manusia.

Ke depan, Tiong kok akan terus menjalankan kebijakan luar negeri yang damai dan independen, mengembangkan kerja sama bersahabat dengan negara- negara lainnya, serta memperjuangkan terbentuknya hubungan internasional gaya baru dengan prinsip saling menghormati, setara dan adil, dan saling menguntungkan. Rakyat Tiongkok akan selalu bergandeng tangan dengan rakyat dari negara-negara lainnya di dunia untuk memperjuangkan terwujudnya masa depan yang lebih baik bagi seluruh umat manusia.

Rakyat Tiongkok tidak akan pernah menyetujui upaya apa pun, dari siapa pun, atau dari kekuatan mana pun yang hendak menghancurkan hak rakyat Tiongkok untuk hidup damai dan berkembang secara damai, yang hendak menghancurkan hubungan kerja sama antara rakyat Tiongkok dengan rakyat negara-negara lainnya, maupun yang hendak menghancurkan upaya mulia mewujudkan perdamaian dan kemajuan umat manusia.

MI/Seno

Ilustrasi MI

 

Tahun ini bertepatan dengan peringatan 70 tahun hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Indonesia. Di hadapan pandemi, kedua negara yang senasib sepenanggungan ini terus meningkatkan kerja sama penanganan wabah dan pemulihan ekonomi. Terlepas dari situasi yang sulit, hubung an bilateral ini justru tetap berkembang, dan secara gamblang menampilkan persahabatan mendalam yang diliputi semangat ‘berat sama dipikul, ringan sama dijinjing’. Presiden Xi Jinping dan Presiden Joko Widodo telah melakukan tiga kali pembicaraan via telepon selama ini dan bertukar ucapan selamat tepat pada hari peringatan hubungan diplomatik itu.

Anggota Dewan Negara merangkap Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi dan Menteri BUMN Erick Thohir, sedangkan Anggota Dewan Negara merangkap Menteri Pertahanan Tiongkok Wei Fenghe juga melakukan kunjungan resmi ke Indonesia. Di bidang penanganan pandemi, kedua negara saling mengirimkan bantuan material medis, di samping bekerja sama dalam hal uji klinis, pengadaan, dan produksi vaksin. Kedua negara juga berbagi pengalaman terkait penanganan pandemi dan pemulihan aktivitas perekonomian.

Sementara itu, di bidang ekonomi, Tiongkok tetap merupakan mitra dagang terbesar dan sumber investasi asing terbesar kedua bagi Indonesia. Dalam paruh pertama tahun ini, volume perdagangan bilateral mencapai US$35,53 miliar, sedangkan nilai investasi Tiongkok ke Indonesia mengalami kenaikan sebesar 172%.

Proyek-proyek vital dalam sinkronisasi strategi pembangunan nasional kedua negara seperti Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dan Koridor Ekonomi Komprehensif Regional terus mengalami kemajuan. Kedua negara juga membentuk ‘jalur cepat’ untuk pertukaran orang dan secara bertahap memulihkan penerbangan langsung, demi memfasilitasi perjalanan warga dan mendorong pemulihan ekonomi.

Saat ini Tiongkok sedang melangkah menuju target seratus tahun kedua untuk menjadi sebuah negara sosialis modern yang tangguh. Sementara itu, Indonesia, yang pada 2019 telah menjadi negara berpendapatan menengah ke atas, juga sedang berjuang merealisasikan Visi Indonesia 2045. Perkembangan kedua negara dan hubungan antara kedua negara telah berada pada titik awal sejarah yang baru untuk memulai perjalanan zaman yang baru. Tiongkok siap bekerja sama dengan Indonesia untuk memenangi pertempuran melawan pandemi; mewujudkan kemajuan bersama; mendorong stabilitas, perdamaian, kemakmur an, dan perkembangan di tingkat internasional maupun regional; serta menciptakan masa depan yang lebih baik bagi kedua negara dan bagi seluruh dunia.

BERITA TERKAIT