30 September 2020, 04:15 WIB

Hari Aksara Internasional, Momentum Tingkatkan Melek Huruf


Syarief Oebbaidillah | Humaniora

HARI Aksara yang diumumkan Badan PBB, UNESCO pada 1955 diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan semangat para pemimpin, tokoh masyarakat dan pegiat pendidikan menyukseskan Gerakan Nasional Percepatan Pemberantasan Buta Aksara dalam rangka pemberdayaan dan pengembangan literasi masyarakat.

Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia Giwo Rubianto mengatakan, peringatan Hari Aksara Internasional sedunia atau Hari Melek Huruf Internasional yang diperingati setiap 8 September oleh UNESCO merupakan hari yang dapat dijadikan bagi masyarakat Indonesia terutama para Ibu yang merupakan pengajar pertama dan utama bagi keluarganya untuk dapat berperan aktif.

"Hal itu sekaligus mengingatkan masyarakat akan pentingnya melek huruf sebagai masalah martabat dan hak asasi manusia, serta untuk memajukan agenda keaksaraan menuju masyarakat yang lebih melek huruf," papar Giwo pada webinar memperingati Hari Aksara Internasional ( HAI) ke 55 di Jakarta,Selasa (29/9).

Giwo mengungkapkan, saat ini di Indonesia, sekitar 1,78 persen warga negaranya masih buta huruf dan yang terbanyak berada di daerah 3 T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal, ).

Walaupun Indonesia sukses dalam memberantas buta aksara dibandingkan data UNESCO bahwa diseluruh negara dunia masih ada 775 juta penduduk yang masih buta huruf, dengan perbandingan seperti ini Indonesia jangan berpuas diri

Giwo menegaskan, jika keluarga melalui peran ibu sudah dikenalkan untuk melek huruf maka dalam proses pendidikan keaksaraan dalam pemberantasan buta aksara akan lebih effektif. Sehingga keaksaraan pada masyarakat yang meningkat akan menjadikan bangsa yang unggul tidak hanya dari sumber daya alam saja juga sumber daya manusianya.

Giwo menjelaskan, Kowani juga ikut berkontribusi dalam Percepatan Pemberantasan Buta Aksara melalui Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Aksara dengan menggerakkan Organisasi anggota Kowani, BKOW, GOW dari seluruh Indonesia.

Giwo melanjutkan Kowani sebagai federasi organisasi terbesar yang memilik 97 organisasi anggota diseluruh Indonesia terus berjuang dalam pengentasan buta aksara, terlebih adanya tantangan pandemi Covid-19 yang hingga sekarang masih berlangsung bersamaan dengan tuntutan harus melek IT.

Baca juga : Jadi Lansia Sehat? Investasilah sejak Bayi

"Mau tak mau kita harus kembali mengasah kemampuan literasi lebih dalam lagi, berkreasi untuk berkomunikasi, serta memahami dan memanfaatkan media yang kita miliki untuk menjalankan kegiatan dan program melek huruf, " ujarnya.

Kowani juga mempunyai Perpustakaan yang berada di Gedung Nyi Ageng Serang, Rasuna Said Jakarta Selatan. Perpustakaan Kowani merupakan Pusat Dokumentasi Pergerakan Perempuan menyimpan banyak buku mengenai perempuan.

Saat ini Kowani juga sedang membangun perpustakaan digital mengenai pergerakan perempuan dari masa ke masa sebagai tonggak pengingat sejarah yang dapat diteruskan kepada generasi penerus bangsa.

"Marilah kita yakini bersama bahwa kemampuan literasi akan membantu pembangunan yang berkelanjutan. Buta huruf merupakan hambatan untuk kualitas hidup yang lebih baik. Untuk itu marilah kita semuanya membangun kepedulian kepada Literasi agar tercapai tema dari kegiatan ini yaitu: Indonesia Maju Terwujud Masyarakat Literasi Yang Belajar Sepanjang Hayat," tandas Giwo.

Linda Gumelar yang juga Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA) menyatakan sekitar 3,76 juta warga Indonesia masih mengalami buta aksara. Mayoritas penyandang buta aksara adalah kaum perempuan.

"Rata-rata penyandang buta aksara perempuan berusia 15-59 tahun, dan sebagian besar mereka berasal dari kelompok miskin," kata Linda.

Menurutnya, banyaknya perempuan Indonesia yang masih buta aksara salah satunya karena masih tingginya budaya patriarki yang masih berlaku di sejumlah daerah. Budaya diskriminasi terhadap perempuan ini dinilai masih kental di sebagian masyarakat Indonesia. (OL-7)

BERITA TERKAIT