30 September 2020, 06:00 WIB

Insentif Berlapis buat Warga Papa


M Ilham RA | Ekonomi

WAKIL Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menegaskan realisasi prog­ram Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang menyerap anggaran hingga Rp695,2 trili­un harus tepat sasaran. Karena itu, bukan tak mungkin keluarga miskin dan rentan miskin bisa dapat lebih dari satu insentif dari program perlindungan sosial.

“Masyarakat rentan dan miskin bisa mendapat lebih dari satu insentif, seperti dari program perlindungan sosial, yaitu PKH (Program Keluarga Harapan) atau kartu sembako dengan dukungan UMKM jika warga tersebut memiliki usaha mikro,” ujar Suahasil dalam webinar Sinergi Pengawasan APIP, SPI, APH bertajuk Sinergi Mengawal Negeri, Menuju Indonesia Maju, kemarin.

“Tepat sasaran, menurut saya, artinya itu dan diperoleh oleh yang memang menjadi sasaran dari program tersebut. Bantuan untuk rumah tangga yang tepat sasaran adalah untuk warga miskin dan rentan,” imbuhnya.

Ia menuturkan, program perlindungan sosial memakan anggaran sebesar Rp203,9 triliun yang terdiri dari PKH Rp37,4 triliun, sembako Rp43,6 triliun, bansos Jabodetabek Rp6,8 triliun, dan bansos non-Jabodetabek Rp32,4 triliun. Selanjutnya Program Kartu Prakerja Rp20 triliun, diskon listrik Rp6,9 triliun, logistik/pangan/sembako Rp25 triliun, serta BLT dana desa Rp31,8 triliun.

“Buat saya, selama peruntukannya tepat maka ini bukan tumpang-tindih. Ini memang bentuk keberpihakan pemerintah kepada rumah tangga, dunia usaha, usaha mikro, dan usaha yang taat pajak,” tegasnya.

Dari diskusi daring Menilik Parameter Kemiskinan di Negeri Dengan Keanekaragaman, Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai NasDem Charles Meikyansah menekankan perlunya sebuah kebijakan yang berpihak kepada para petani di pedesaan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi para petani.

Pasalnya, berdasarkan data yang dipegangnya, jumlah petani gurem atau petani yang memiliki lahan kurang dari 0,5 hektare semakin meningkat. Alhasil, kemiskinan yang kerap diidentikkan dengan profesi petani atau buruh tani tetap bertahan.

“Di 2013, jumlah petani gurem sebanyak 14,25 juta rumah tangga, kini bertambah menjadi 15,81 rumah tangga,” ungkap Charles.

Kemiskinan baru

Di kesempatan terpisah, dalam laporan ekonomi terbarunya, Bank Dunia menyatakan pandemi covid-19 telah memukul perekonomian di Asia Timur dan Pasifik. Karena itu, perlu tindakan cepat agar wabah itu tidak menghambat pertumbuhan dan meningkatkan kemiskinan di tahun-tahun mendatang.

“Covid-19 tidak hanya menyebabkan pukulan terparah bagi masyarakat miskin, tapi juga mengakibatkan munculnya masyarakat miskin baru. Kawasan ini dihadapkan kepada serangkaian tantangan yang belum pernah dihadapi sebelumnya, dan pemerintah menghadapi pilihan yang sulit,” kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik Victoria Kwakwa, kemarin.

Ia menjelaskan laporan edisi Oktober 2020 berjudul From Containment to Re­covery menyatakan pandemi covid-19 telah menyebabkan terjadinya tiga guncangan bagi kawasan itu, yaitu pandemi itu sendiri, pembatasan terhadap perekonomian, dan gaung resesi global yang diakibatkan krisis yang terjadi. (Try/Ins/Ant/E-2)

 

BERITA TERKAIT